Apa Itu Arm Pump? Penyebab Fabio Quartararo Merosot dari Posisi 1 ke 13

Tim Detikcom - detikOto
Senin, 03 Mei 2021 11:41 WIB
Jakarta -

Fabio Quartararo terlihat akan meraih hat-trick kemenangan dengan menjuarai MotoGP Spanyol. Namun di tengah race tiba-tiba saja posisinya merosot jauh, dari memimpin balapan sampai akhirnya finis di posisi 13. Ada apa?

Memulai balapan dari pole position, Quartararo sempat mundur beberapa posisi di awal-awal MotoGP Spanyol. Namun dia kemudian tak butuh waktu lama untuk bisa kembali berada di urutan paling depan dan menciptakan gap satu detik lebih dengan Jack Miller yang setia menguntit di posisi dua.

Namun kecepatan Quartararo secara misterius hilang begitu saja. Sampai puncaknya dia dengan mudah disalip Miller ketika balapan berusia 16 putaran. Setelah itu Quartararo seperti tak berdaya. Satu per satu rider lain menyusulnya.

Saat menyentuh garis finis, Quartararo berada di posisi 13. Hasil tersebut membuat pebalap Yamaha Monster Energy itu tergusur dari puncak klasemen MotoGP.

Bukan Masalah Teknis, tapi Kendala Arm Pump

Pada awalnya diprediksi kemerosotan kecepatan Quartararo terjadi karena masalah teknis. Dugaan awal adalah kendala pada bannya.

Namun setelah race tuntas, diketahui kalau Quartararo ternyata mengalami masalah pada arm pump. Cedera ini umum dialami pebalap MotoGP dari waktu ke waktu.

Apa sebenarnya cedera arm pump itu? Dalam bahasa medis, arm pump ini disebut sebagai Chronic Exertional Compartment Syndrome.

Dikutip dari The Race, arm pump adalah kondisi otot dan syaraf yang memunculkan rasa sakit, bengkak, dan bahkan kadang kaku yang muncul akibat aktivitas olahraga. Arm pump terjadi akibat otot lengan membengkak karena suatu aktivitas dan otot tersebut menjadi terlalu kencang.

Saat berolahraga terlalu keras, darah akan terpompa terus ke dalam otot. Darah tersebut kemudian terkumpul di otot tanpa ada tempat untuk mengalir. Saat otot terus mengembang akibat tekanan darah dan membentur bagian tubuh lain yang solid, itu memunculkan fenomena seperti saat kita memakai perban terlalu ketat.

Itu membuat aliran darah dari dan ke otot akan terputus. Itu juga membuat syaraf tidak bisa merespons dengan sempurna.

"Saya punya masalah besar dengan lengan saya. Sayang sekali karena saya sudah merasa tenang berada di depan. Kecepatan motor kami sangat bagus pekan ini, dan tiba-tiba saja lengan saya tak lagi bertenaga. Saya sangat kecewa. Tapi saya berjuang sampai akhir, meski hanya bisa meraih tiga poin," kata Quartararo usai balapan.

"Saya sedang memimpin satu detik kemudian saya tak lagi punya tenaga. Saya membalap dengan rasa sakit sampai enam lap, menjaga keunggulan satu poin, tapi itu mustahil. Betul-betul tak ada tenaga," lanjut Quartararo dikutip dari Crash.

(din/rgr)