Jumat, 24 Apr 2020 07:39 WIB

Rahasia Sistem Elektronik di Motor MotoGP

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Marc Marquez Untuk mengendalikan tenaga yang buas, motor MotoGP perlu perangkat elektronik. Foto: Instagram @marcmarquez93
Jakarta -

Motor MotoGP saat ini telah disuntik berbagai teknologi canggih. Untuk mengendalikan tenaga buasnya, setiap motor balap di kelas MotoGP dibekali perangkat elektronik.

Sistem elektronik menjadi bagian dasar dari motor MotoGP untuk mengoptimalkan kinerja mesin. Perangkat elektronik juga berperan penting dalam hal keamanan karena mengendalikan tenaga buas yang hanya disalurkan ke roda belakang mustahil akan mudah tanpa perangkat elektronik.

Tanpa sistem elektronik, bahkan pada gigi dua atau gigi tiga saja ban belakang akan kehilangan kendali. Di sinilah perangkat elektronik seperti kontrol traksi berperan.

Mengutip laman Box Repsol, kontrol traksi bekerja berdasarkan data yang dikirim oleh sensor kecepatan roda. Jika roda belakang berputar lebih cepat daripada roda depan, sistem elektronik akan bekerja untuk memperbaikinya. Sebab, roda belakang bisa membahayakan stabilitas dan handling dari si pebalap.

Dalam hal ini, kontrol traksi akan membuat ECU bertindak dengan memutus akselerator. Ini dimungkinkan karena teknologi ride by wire, sebuah koneksi elektrik antara akselerator dan katup throttle. Selain memutus input akselerator, langkah lain yang dimungkinkan untuk mengontrol traksi adalah dengan mengadaptasi timing pengapian silinder, misalnya salah satu silinder dibiarkan tanpa percikan api.

"Sistem ini juga memperhitungkan sudut kemiringan kendaraan sebelum membuat keputusan, serta posisi gigi, yang mengubah gaya yang ditransmisikan oleh mesin ke roda belakang. Semua pengukuran ini dihitung dalam sepersekian detik untuk membuat keputusan yang nyaris tidak terlihat," tulis Box Repsol.

Contohnya, ketika pebalap menikung dengan sudut kemiringan 60 derajat. Saat keluar dari tikungan, jika pebalap membetot gas terlalu dalam, mesin akan menyajikan torsi terlalu besar. Akibatnya, roda belakang bisa slip. Pada saat ini, sensor kecepatan akan mengirim sinyal ke ECU bahwa roda belakang berputar terlalu cepat. Perangkat lunak pada motor membandingkan data tersebut dengan data yang diprogram oleh tim. Setelah menentukan bahwa roda belakang berputar terlalu cepat, ECU akan memaksa mesin untuk menutup sebagian akselerator. Alhasil, torsi yang dikirim mesin ke transmisi sedikit dikurangi. Saat pebalapnya berhasil mendirikan motor ke posisi vertikal setelah menikung dan meningkatkan kecepatannya, intervensi itu tidak diperlukan dan input mesin bekerja kembali ke tingkat normal.

Selain kontrol traksi atau traction control, ada juga anti-wheelie system. Terkadang, cengkeraman roda belakang bersamaan dengan tenaga mesin yang melimpah membuat roda depan motor terangkat. Untuk menghentikan hal itu, pembalap MotoGP mendapat manfaat dari pengaturan elektronik anti-wheelie system tersebut.

Sama seperti kontrol traksi, anti-wheelie system juga membandingkan kecepatan kedua roda berputar. Sistem ini mendeteksi ketika ban depan melambat saat mesin berakselerasi.

Berkat sensor suspensi, ECU mampu mendeteksi apakah roda depan terangkat atau tidak. Sensor itu terletak di garpu depan motor MotoGP dan menunjukkan posisi suspensi. Ketika sensor membaca bahwa suspensi depan memanjang sepenuhnya, itu artinya roda depan terangkat.

Anti-wheelie system bekerja dengan cara yang mirip dengan kontrol traksi. Sistem akan membatasi pembukaan akselerator dan menerapkan langkah-langkah lain jika diperlukan.

Tak cuma di MotoGP, sistem elektronik itu juga saat ini sudah banyak diterapkan di motor jalan raya. Khusus anti-wheelie system, biasanya ada di motor-motor sport yang tenaganya cukup besar.



Simak Video "Raih Pole Position di MotoGp Andalusia, Quartararo 'Asapi' Bintang Yamaha"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com