Rabu, 21 Feb 2018 16:34 WIB

Ini Bedanya Helm MotoGP dan Helm Biasa

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Foto: Rifkianto Nugroho Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Pebalap MotoGP tak bisa sembarangan memilih helm. Balapan yang dipacu hingga kecepatan lebih dari 300 km/jam itu butuh proteksi yang mumpuni, juga mendukung aerodinamika untuk memacu kecepatan lebih tinggi.

Direktur Marketing PT Danapersadaraya Motor Industry Johannes Cokrodiharjo sebagai produsen helm NHK menjelaskan banyak perbedaan antara helm balap MotoGP dan helm-helm biasa. Johannes sebagai perwakilan NHK yang helmnya sudah dipakai di balapan MotoGP oleh Karel Abraham itu mengatakan, setiap detail kecil helm balap MotoGP dipikirkan.

"Jauh perbedaannya. Begitu dipegang aja sudah tahu bedanya. Apalagi kalau dipakai. Pokoknya yang bisa saya katakan adalah itu semuanya ada perbedaan. Kalau di helm balap, semuanya itu dipikirin. Hal secuil pun dipikirin. Masalah batok dipikirin, ventilasi mulut, itu detail kecil-kecil yang juga dipikirin," kata Johannes menjawab pertanyaan detikOto.

Misalnya dari helm balap MotoGP NHK. Helm itu di bagian ventilasi mulutnya juga diperhitungkan. Sehingga saat motor dipacu di kecepatan tinggi, angin masuk tak terlalu signifikan, tapi tetap membuat nyaman.

"Ventilasi mulut dengan desain yang kita bikin memungkinkan kita setel saat lari 100 km/jam, 150 km/jam, 200 km/jam, 250 km/jam, 300 km/jam, 350 km/jam itu beda-beda jumlah angin yang masuk. Jadi lari 100 km/jam ke bawah angin nggak masuk, lari 250 km/jam angin masuk tapi nggak terlalu kencang," sebutnya.

Begitu juga dari bagian dalam helm. Busanya dibuat senyaman mungkin dan tidak memungkinkan helm goyang-goyang saat dipacu di kecepatan tinggi.

Soal visor atau kacanya pun berbeda. Ketebalan kaca dan kualitas optikal visor tersebut dibuat agar pebalap bisa tetap fokus di kecepatan sekencang apa pun.

"Pertama dites Karel itu helm ada sedikit masalah di visor. Kalau dipakai kecepatan rendah nggak ada masalah. Tapi begitu di kecepatan sangat-sangat tinggi, pas di tikungan itu sedikit getar sehingga bisa membuyarkan fokus. Akhirnya kita konsultasi sama dia, dan sekarang masalahnya sudah selesai," cerita Johanes.

"Karena, di tikungan saat motor kencang, misalnya belok kanan, kepala pebalap kan keluar ke kanan, itu getaran helm bisa kencang (terhantam angin). Pebalap itu harus fokus melihat racing line. Kalau pas lagi nikung helm goyang-goyang sehingga bikin fokus pebalap buyar, racing line bisa miss. Karena itu, kaca nggak boleh ada getaran sedikit pun," sambungnya.

Bicara tingkat safety, helm MotoGP harus lebih aman karena untuk melindungi kepala pebalap yang memacu motornya hingga lebih dari 300 km/jam. Pengujian pun dilakukan benar-benar detail sehingga aspek keamanan lebih diutamakan.

"Kalau diuji itu helm-helm kan dibanting gitu, itu dihitung angka G-nya berapa. Nah kalau helm balap ini, kita jaga angkanya itu sebagus mungkin jadi menyerapnya itu harus bagus sekali. Dan penyerapan yang harus bagus sekali itu ribet R&D-nya. Itu juga habis waktu lama," ucap dia.

Selain itu, bahan helm juga berbeda antara helm biasa dan helm buat balapan MotoGP. Jadi, helm lebih aman dan lebih ringan.

"Bahannya composite carbon kevlar (untuk helm MotoGP yang dipakai Karel Abraham). Kalau helm biasa itu thermoplastic, fiber biasa. Itu semua pengaruh. Ngaruhnya untuk ringan dan sebagainya," katanya.

"Yang beda juga catnya. Warna boleh sama (dengan helm biasa), tapi kualitas catnya beda," ucapnya. (rgr/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed