ADVERTISEMENT
Selasa, 15 Okt 2019 18:12 WIB

Ojol Wanita Rentan Terhadap Kekerasan Seksual

Ridwan Arifin - detikOto
Ilustrasi driver ojol wanita. Foto: Grab Indonesia Ilustrasi driver ojol wanita. Foto: Grab Indonesia
Jakarta - Memasuki zaman emansipasi, membuat ruang-ruang yang biasa diisi laki-laki juga melibatkan perempuan, salah satunya jasa transportasi online. Namun peluang ekonomi digital tersebut nyatanya menyimpan hambatan yang membuat perempuan khawatir akan keselamatan dirinya.

Komisi Nasional Perempuan menyebut kekerasan terhadap perempuan masih menjadi pekerjaan rumah. Bahkan pada catatan tahunan kekerasan perempuan di 2019 tercatat dua kasus kekerasan seksual yang terjadi di transportasi online. Angka tersebut masuk dalam 406.178 kekerasan terhadap perempuan yang diadukan ke Komnas Perempuan.


"Yang paling sering terjadi (kekerasan perempuan di transportasi online) itu pelecehan seksual dan pelecehan seksual itu dari yang sekedar verbal ataupun lewat chat," tutur Ketua Komnas Perempuan Azriana Manalu di Jakarta, Selasa (15/10/2019).

googletag.defineOutOfPageSlot('/4905536/detik_desktop/oto/parallax_detail', 'div-gpt-ad-1558277787290-0').addService(googletag.pubads());
Lebih lanjut Azriana juga menyoroti usai rentetan pelecehan seksual yang terjadi, salah satu layanan on deman berbasis aplikasi Grab menambahkan fitur yang bisa mencegah terjadinya tindakan pelecehan seksual dalam fitur Share My Ride, selfie authentication, uji kamera keamanan, hingga tombol darurat.

"Kemudian pernah ada masanya nomor telepon masih sering dihubungi setelah itu. Jadi pelecehan seksual itu paling dominan walaupun ada beberapa kasus yang muncul percobaan perkosaan," tutur Azriana.


"Dari perbincangan dengan Grab yang rentan mengalami bukan hanya penumpang tetapi juga mitra pengemudi. Satu pengemudi bercerita waktu itu dia pengemudi roda empat bercerita bagaimana dia mengalami pelecehan oleh penumpang laki-laki dua orang. Dan dia bisa keluar dengan tombol darurat," cerita Azriana.

Berangkat dari hal tersebut Azriana berharap setiap aplikator membangun sistem yang lebih komprehensif, terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang terjadi.

"Buat komnas Perempuan yang terpenting adalah sistem perlindungan, karena tidak semua perempuan siap untuk melawan secara fisik untuk melawan pelaku, nggak semua orang dalam psikologis yang sama," kata Azriana.

"Jadi sistem kita punya, kemudian apa yang perlu dilakukan untuk membuat sistem itu bekerja optimal. Mungkin (ilmu) bela diri menjadi salah satu perempuan lebih percaya diri boleh saja dilakukan, tetapi juga buat yang tidak memilih itu caranya tetap diberikan opsi yang lain," sambungnya.


Dalam kesempatan yang sama Grab juga berujar telah bekerjasama dengan Yayasan Pulih, sebuah organisasi nirlaba di Indonesia yang menyediakan konselor psikososial bagi para korban kekerasan seksual.

"Karena aman, kini mitra pengemudi dan penumpang selalu bisa mengejar berbagai hal yang berarti bagi mereka tanpa rasa ragu lagi," kata Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi.

Simak Video "Dear Pengguna Ojol, Ini Tarif Baru yang Berlaku Mulai September"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/dry)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com