Rabu, 03 Apr 2019 15:06 WIB

Resensi Buku

Meraih Surga dari Balik Kemudi

Ridwan Arifin - detikOto
Foto: Dadan Kuswaraharja Foto: Dadan Kuswaraharja
Jakarta - Angka kecelakaan begitu tinggi di Indonesia. Meski penertiban lewat sejumlah aturan juga sudah diterapkan. Sayangnya salah satu faktor kecelakaan juga disebabkan karena kurangnya kesadaran dalam keselamatan berkendara.

Aturan tentang berlalu lintas tak jarang diterabas yang disebabkan lemahnya aparat, kenakalan pengendara, dan oknum tertentu. Melihat fenomena seperti ini, rasanya aturan merupakan tataran terendah, dan yang lebih tinggi adalah kesadaran.



Hadirnya buku saku Fiqih Lalu Lintas merupakan ikhtiar menumbuhkan kesadaran berlalu lintas kepada pengendara, khususnya disiplin berlalu lintas dalam pandangan agama Islam.

Tim Penyusun mengemasnya dalam penjelasan sederhana dan bahasa yang mudah dicerna. Semakin aktraktif dibalut dengan karikatur dan jargon kalimat menarik berupa seruan untuk tertib berlalu lintas.

Buku ini setidaknya terbagi menjadi tiga bab, pertama objek kajian fiqih lalu lintas dan dari mana sumber hukumnya.

Kedua, tuntunan Islam dalam Berkendara yang menjelaskan perintah taat aturan lalu lintas, kewajiban menggunakan atribut safety riding, larangan melanggar aturan lalu lintas, kolusi SIM (Surat Izin Mengemudi), suap, dan kejahatan berkendara.

Pada bagian ketiga tentang Meraih Surga dari Balik Kemudi yang menyuguhkan paparan tentang adab berkendara, doa-doa selama perjalanan, nasionalisme jalanan dan tadarus jalanan.

Dari pemetaan bab saja, sudah dapat terlihat buku saku ini memiliki pesan penting untuk direnungkan. Bahwa aturan yang negara untuk menjamin keselamatan berkendara juga sejalan dengan agama.



Terlebih penegasan di awal juga terlihat bahwasanya jalan raya adalah cermin budaya bangsa. Lalu lintas yang baik dan beradab mengindikasikan muslim Indonesia baik beradab begitu pun sebaliknya (hlm. 3).

Membaca buku saku ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keselamatan berkendara, menjadi siswa di jalanan. Diibaratkan semua peserta didik adalah pengguna jalan raya, barang siapa yang tidak mengindahkan aturan jalan raya, maka ialah orang-orang yang gagal (hlm. 58).

Selain safety riding, dan mematuhi rambu. Hal terpenting itu adalah lahirnya kesadaran sendiri dari pengendara.

Bagi pengendara, khususnya muslim, buku tipis 70 halaman ini juga memberi banyak referensi tentang bagaimana agama membentuk nilai mawas diri dalam berkendara. Apalagi, pemaparan yang tersaji di dalam buku ini cukup jelas dan mudah dimengerti, sehingga layak dijadikan handbook untuk dibawa kemana saja.

Data buku: Fiqih Lalu Lintas: Tuntunan Islam dalam Berkendara secara Aman
Penyusun:
- M. Latief Ghozali
- M. Helmi Umam
- MW Iwanebel
- Sulanam
- A. Mahfudz Nazal
Penerbit: UIN Sunan Ampel Press
Tebal: 70 halaman
Cetakan: Pertama, 2019 (riar/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com