Senin, 04 Mar 2019 08:46 WIB

Motor di Indonesia Kebanyakan kalau Boleh Masuk Tol

Rizki Pratama - detikOto
Foto: Andhika Akbarayansyah Foto: Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Masyarakat ada yang setuju dan ada juga yang tidak setuju mengenai wacana motor masuk tol di Indonesia. Sebelum Indonesia menghalalkan motor masuk tol ada banyak hal yang perlu dikaji terlebih dahulu mengingat populasi sepeda motor di Indonesia sangat banyak.

Masifnya volume kendaraan beroda dua di Indonesia akan memberikan kendala nantinya jika diizinkan masuk tol. Masih banyaknya pengendara motor yang kurang sadar akan bahaya berkendara pada kecepatan tinggi memiliki risiko kecelakaan yang besar.



"Jumlah motor di luar negeri tidak semasif di Indonesia. Indonesia itu masif sekali dan kita lihat attitude berkendaranya belum sebaik negara luar," ujar Pereli Indonesia, Rifat Sungkar saat ditemui detikOto di rangkaian kegiatan Millennial Road Safety Festival bersama Korps Lalu Lintas Polri, Minggu (3/3/2019).

Dalam kecepatan tinggi dan jumlah yang banyak ketika terjadi tabrakan beruntun akan menimbulkan korban jiwa yang banyak. Selain itu dampak kecelakaan yang diterima pengendara akan sangat parah karena kontak langsung dengan peristiwa tabrakan, berbeda dengan mobil yang masih melindungi lebih dahulu kepada penumpang dengan bodinya.

"Kalau tabrakan beruntun mobil masih bisa terlindungi karena bodi mobi, kalau motor tabrakan beruntun kan bahaya sekali," lanjut Rifat.




Berkaca dengan luar negeri yang sudah mengizinkan motor masuk tol, menurut Rifat volume sepeda motornya jauh lebih sedikit dan terbatas hanya dengan kendaraan bermesin besar. Untuk itu jika Indonesia, khususnya Jakarta mengizinkan motor masuk tol sebaiknya menggunakan pembatas seperti yang sudah dilaksanakan di Bali.

"Di autobahn (jalan bebas hambatan Jerman), Jerman motor ada sesekali tapi itu motor gede, nah motor gede sama mobil speednya sama tapi kan jumlahnya satu dua motor saja, kalau di sini kan jutaan motor. Jadi kalau mau motor masuk tol saya setuju seperti di Bali itu, di mana motor dan mobil jalurnya dipisah, jadi jangan dicampur sama mobil," tutup Rifat.


[Gambas:Video 20detik]

(rip/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed