Senin, 16 Jul 2018 15:00 WIB

Pertamina: 2030 Energi Migas Digantikan oleh Listrik

Bayu Ardi Isnanto - detikOto
Baterai ion lithium produksi Pertamina-UNS Foto: Pertamina
Solo - PT Pertamina mulai menjajaki bisnis energi baru terbarukan berupa baterai litium. Hal tersebut sesuai peta bisnis Pertamina dimana pada 2030 energi migas bakal tergeser oleh sumber energi listrik.

Dalam tahap awal ini, Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui Pusat Pengembangan Bisnis (Pusbangnis) dapat memproduksi 1.000 sel baterai per hari. Melalui Pertamina, sel baterai itu dikirim ke Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya agar dimanfaatkan sebagai sumber tenaga motor listrik.



Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko Pertamina, Gigih Prakoso, mengatakan produksi baterai litium ini juga sejalan dengan langkah pemerintah yang ingin mengembangkan kendaraan listrik. Meskipun, baterai ini juga dapat digunakan untuk power bank hingga solar panel.

"Baterai menjadi isu penting bagi pengembangan kendaraan listrik. Tanpa teknologi pembuatan baterai ini, maka kita hanya akan menjadi pasar dari produsen baterai di negara lain," ujar Gigih akhir pekan lalu di Solo.

Untuk pengembangan sumber energi ini, Pertamina telah mengucurkan dana Rp 20 miliar untuk beberapa perguruan tinggi. Rp 11 miliar di antaranya digunakan untuk pengembangan baterai di UNS.



Wakil Dekan Fakultas MIPA UNS yang juga ketua tim peneliti, Agus Purwanto, mengatakan selama ini Indonesia masih tergantung dengan baterai lithium impor. Diharapkan proyek ini mampu menumbuhkan industri baterai buatan negeri.

Mengenai bahan bakunya, baterai lithium yang diproduksi ini sudah 60 persen menggunakan bahan lokal. Agus menargetkan dalam tiga tahun nanti sudah dapat sepenuhnya menggunakan bahan lokal.



"Sangat memungkinkan menjadi local content semua, itu tujuan kita. Tambangnya kan sudah ada dalam bentuk pasir, batuan. Tinggal nanti masalah scale up," ujar dia.

Beberapa jenis baterai yang dia produksi, antara lain Lithium Cobalt, Lithium Nikel Cobalt Aluminium Oksida (NCA), Lithium Nikel Mangan Cobalt Oksida (NMC). Dengan menggunakan bahan lokal, Agus memastikan ongkos produksinya akan semakin murah.

"Misalnya baterai NCA ini harganya Rp 60 ribu per sel. Kalau pakai bahan lokal semua, nanti bisa Rp 30 ribu per sel," tutupnya. (ddn/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com