Suka Main Golf Bareng, Bos Honda-Yamaha Tidak Ngomong Masalah Bisnis

Suka Main Golf Bareng, Bos Honda-Yamaha Tidak Ngomong Masalah Bisnis

M Luthfi Andika - detikOto
Rabu, 27 Jul 2016 08:09 WIB
Suka Main Golf Bareng, Bos Honda-Yamaha Tidak Ngomong Masalah Bisnis
Executive Vice President & COO PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing, Dyonisius Beti di sidang KPPU. Foto: M Luthfi Andika
Jakarta - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menduga Honda-Yamaha melakukan kesepakatan harga skutik saat kedua bos perusahaan itu bermain golf.

Executive Vice President & COO PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing, Dyonisius Beti, secara gamblang mengatakan tidak pernah ada perjanjian Yamaha dan Honda dalam mengatur harga skuter 110-125 cc.

Orang berpengaruh di Yamaha ini pun mengakui, para bos Yamaha dan Honda ini memang bermain golf bareng layaknya eksekutif lainnya. Namun dirinya memastikan hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan urusan bisnis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak ada hubungan anatara golf dengan bisnis. Golf hanya urusan pribadi dan kegiatan Kojima dengan sesama ekspatriat Jepang yang punya hobi sama. Tidak ada diskusi mengenai bisnis dan kesepakatan perjanjian di golf itu," kata Dyon.

KPPU memperlihatkan bukti permintaan soal kenaikan harga yang dikirimkan oleh Direktur Marketing PT YIMM Yutaka Terada kepada Dyonisius Beti (Vice President PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing), Sutarya (Direktur Sales PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing. Dalam email itu disebutkan 'President Kojima san has requested us to follow Honda price Increase many times since Januari 2014 because of his promise with Mr Inuma President of AHM at Golf Course'.

Kojima adalah mantan bos Yamaha, posisi dia kini digantikan oleh Minoru Morimoto sebagai Presiden Direktur dan CEO baru PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Dyon dalam pembelaannya juga mengatakan tidak sinkron hubungan antara peristiwa golf dengan email yang dikirim Yoichiro Kojima.

"Seluruh kesaksian dari Mr Terada tentang golf tidak sah, karena dia tidak hadir (testimonium de auditu), dan tidak didukung alat bukti yang sah lainnya (unus testis nullus testis). Sehingga tidak dapat dikualifikasikan sebagai alat bukti keterangan saksi. Dan ini juga dibantah oleh Kojima," ujarnya.

"Kalau ada kesepakatan antara Yamaha dengan Honda tentu ujungnya ada perjanjian tapi investigator sama sekali tidak membuktikan ada konfirmasi atau pengakuan dari pihak honda yang menunjukkan honda berjanji dengan Yamaha. Sementara ini Yamaha sama sekali tidak mengadakan perjanjian dengan pihak Honda. Pasar ini sudah sekian puluh tahun bersaing habis-habisan, tidak mungkin kami melakukan kartel seperti ini," tegas Dyon. (lth/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads