"Sekarang semua pabrikan masih meraba-raba berapa banyak motor besar yang ada di Indonesia. Sedangkan kita harus tahu pasar. Melihatnya dari data impor yang masuk? Itu tidak bisa, bagaimana dengan motor tanpa surat (bodong) atau motor yang tanpa mendaftar untuk pajak?" kata Managing Director PT Triumph Motorcycles Indonesia, Paulus Bambang Suranto, di Pasific Place Jakarta, Selasa (19/4/2016).
Dirinya memprediksi, peredaran motor besar bodong di Indonesia terbilang cukup besar. Karena itulah wacana asosiasi motor besar seperti Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia mutlak adanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di data AISI memang sudah muncul data-data moge tertentu keluaran anggota AISI. Misalnya moge Honda, Suzuki, Kawasaki dan Yamaha. Namun moge itu khusus untuk yang dirilis oleh anggota AISI, moge dengan merek yang sama yang dikeluarkan oleh importir umum tidak terekam datanya.
"Jika melihat tahun 2014 sekitar 25 persen (moge) tidak memiliki surat. Tapi makin kemari semakin sedikit. Karena makin kemari, konsumen makin tahu keuntungan memiliki motor besar resmi. Memang harga ada yang perbedaan, tapi kalau ada pelayanan berbeda kan lain. Karena mereka butuh after sales yang memadai, dan keamanan lebih," katanya.
(lth/ddn)












































Komentar Terbanyak
Tukang Tambal Ban Pungut Pelat Nomor Terbawa Banjir, Minta Tebusan Rp 50 Ribu
Biaya Tes Psikologi SIM Online Naik, Sekarang Jadi Segini
Baru Jual 1 Mobil, Polytron Sudah Ungguli Merek Jepang-China Ini di Indonesia