Direktur Pemasaran AHM, Margono Tanuwijaya menyebut, pemakaian moge di Indonesia masih terbatas. Apalagi di kota-kota besar yang lalu lintasnya padat sehingga agak menyulitkan ketika mengendarai moge.
"Itu masih belum besar pasarnya. Karena pakai itu di mana? Lah kalau di Eropa sepeda motor masih boleh masuk jalan tol. Kita dipakai di Jakarta, dipakainya kapan? Macet malah kita capek," kata Margono saat ditemui di Sirkuit Karting Sentul, Kab. Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi memang banyak faktor. Faktor jalan salah satunya. Lalu juga daya beli," ujarnya.
Tak hanya itu, pajak moge di Indonesia juga masih tinggi. Apalagi, moge Honda yang masih diimpor secara utuh juga bergantung dengan nilai tukar mata uang rupiah.
"Pajaknya aja mahal. Dan nilai tukar, itu juga jadi faktor. US dolar kan kalau dulu Rp 9 ribu sekarang hampir Rp 14 ribu. Tapi pajaknya mahal. Ya karena pajak mahal itulah pasarnya sedikit, di luar faktor-faktor lain," sebutnya.
Meski pasar moge kecil, AHM tak begitu saja melupakan pelanggan moge. Untuk itu, AHM menyediakan pelayanan kepada konsumen moge Honda.
"Kita konsisten. Kalau AHM sudah masukin big bike kita serius walaupun kecil. Kita pikirkan pelayanan. Bukan hanya motornya tapi customer-nya, activity-nya, after salesnya. Kita tetap serius dengan penjualan yang enggak gede. Kita persiapkan khusus untuk big bike. Bukan hanya after sales, tapi facility, lalu ketika customer datang ke diler, lalu kita siapkan mobil khusus untuk mengantar big bike. Itu bagaimana kita men-treat customer," ujar Margono.
(rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
Impor Pickup India Disebut Lebih Murah, Segini Harganya
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih