Keputusan Mabua untuk tidak memperpanjang keagenan Harley-Davidson di Indonesia, melihat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar, tarif bea masuk, dan pajak. Hal tersebut berpengaruh pada lesunya minat beli masyarakat terhadap Harley.
"Ada yang beranggapan harga jual Mabua mahal, margin keuntungan tinggi sekali. Harga motor dari pabrik pada dasarnya sama, hanya sistem tarif dan pajak serta logistik yang membuat berbeda," ujar Djonnie, di Jakarta, Rabu (10/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Djonnie menambahkan bahwa pajak yang diterapkan untuk motor besar di Indonesia sebagai yang paling tinggi di dunia yakni mencapai 300 persen. Dibanding negara lain seperti Singapura dan Korea Selatan sebesar 7,5 persen.
"Kita yang tertinggi di dunia. Singapura dan Korea Selatan 7,5 persen. Jadi di Korea untungnya lumayan besar. Kita maunya begitu tapi enggak bisa. Sudah pajak tinggi masa mau untung lagi. Pajak 300 persen dari harga dasar," ujar Djonnie.
Djonnie Rahmat (Foto Niken Purnamasari) |
Sebelumnya Asisten Direktur komunitas Harley-Davidson Owner Group (HOG) Chapter Jakarta sempat membeberkan kepada detikOto perbandingan moge Harley yang dijual di Indonesia.
"Harley yang dijual di Amerika Serikat sekitar Rp 300 jutaan. Di sini bisa Rp 1 miliar," ujar Suharli.
![]() |












































Djonnie Rahmat (Foto Niken Purnamasari)
Komentar Terbanyak
Ribuan Pikap India buat Kopdes Merah Putih Telanjur Masuk Indonesia
Australia 'Lumpuh', Hampir 500 SPBU Kehabisan BBM!
Cuma Menepi Lihat Maps, Preman Tanah Abang Palak Mobil 'Pelat Luar' Rp 300 Ribu