"Perkiraan kami, tahun ini penjualan masih lemah karena start-nya yakni di semester pertama ini juga lemah. Soalnya, penciptaan lapangan pekerjaan yang didorong oleh paket kebijakaan pemerintah VII dan VIII, baru bisa dirasakan pada kuartal kedua," tutur Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala, saat dihubungi di Jakarta, Jumat (8/1/2016).
Sigit menyebut penurunan BBM tidak akan banyak berpengaruh terhadap penjualan. Soalnya, masyarakat masih melihat harga bahan kebutuhan pokok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan fakta seperti itu, lanjut Sigit, maka penjualan sepeda motor dalam jumlah yang besar atau menyamai tahun-tahun sebelumnya akan terjadi pada awal semester kedua. "Tapi harus diingat, dalam kondisi seperti itu, bukan berarti tidak ada penjualan sama sekali. Penjualan ada, tetapi tidak sebesar saat kondisi normal pada tahun-tahun sebelumnya," paparnya.
Sigit mengaku belum mendapatkan data lengkap penjualan motor sepanjang tahun 2015, namun dia memperkirakan penjualan motor sepanjang 2015 lalu hanya sebanyak 6,47 unit. Pencapaian itu meleset dari target yang ditetapkan yakni sebanyak 6,7 juta unit.
Meski trennya menurun, namun Sigit memastikan banyak pembeli sepeda motor yang merupakan konsumen baru. Pembelian didasari beberapa alasan yakni untuk transportasi pribadi, penunjang kegiatan produktif seperti berdagang, ojek, dan lain-lain. (arf/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Ngaku Mau Swasembada Energi, Indonesia Malah Impor Etanol dari AS