Selasa, 11 Agu 2015 11:55 WIB

Viar 7 Explorer

Hari Ketiga, Tim 7 Explorer Bersemangat Eksplorasi Banda Aceh-Meulaboh

Dini Afrianti Efendi - detikOto
Banda Aceh - Perjalanan tim Viar 7 Explorer sudah memasuki hari ketiga, Minggu 9 Agustus 2015 lalu. Tim terlihat sangat bersemangat untuk melakukan perjalanan selanjutnya dari Banda Aceh menuju kota Meulaboh.

Pada akhir pekan ini yang merupakan hari libur, para rider yang terdiri atas 9 orang, yakni Jenny, Jean, Dian, PK, Ronald, Dedi, Rizky, Tya dan juga Irvan akan mengunjungi spot-spot wisata yang akan dilalui oleh mereka searah dengan perjalanan yang mereka lakukan menuju kota Meulaboh.

Setelah sarapan di hotel, mereka melakukan persiapan dan langsung meluncur menuju lokasi pertama yakni Kapal Apung Lampulo.

Kapal Apung Lampulo ini, awalnya merupakan kapal nelayan yang biasa digunakan oleh masyarakat Lampulo untuk melaut. Saat ini kapal tersebut menjadi saksi bisu keganasan bencana Tsunami pada tahun 2004 silam.

Kapal yang memiliki berat sekitar 65 ton ini, terhempas sejauh 25 meter dari dermaga dan terdampar di atap rumah penduduk. Uniknya lagi, pemilik rumah tempat kapal itu terdampar masih menghuni rumah tersebut.

Puas dengan mengabadikan moment di Kapal Apung Lampulo, tim kembali melanjutkan perjalanan menuju spot selanjutnya yakni Mesjid Raya Baiturrahman.

Mesjid kebanggaan warga Aceh ini, dibangun pada era Kesultanan Aceh. Atap masjid ini, dibuat sesuai dengan ciri khas masjid pada umumnya di era tersebut, yakni atap limas bersusun empat.


Dalam sejarahnya, masjid ini pernah dibumihanguskan oleh Belanda saat serangan ke Koetaradja (Banda Aceh), pada 10 April 1873. Runtuhnya bangunan masjid memicu meletusnya perlawanan masyarakat Aceh. Mereka berjuang mempertahankan masjid hingga darah penghabisan.

Pada pertempuran tersebut, Belanda kehilangan seorang panglima mereka, Major General Johan Harmen Rudolf Köhler pada 14 April 1873.

Usai berfoto ria di Mesjid Raya Baiturrahman, para rider kembali melanjutkan menuju titik wisata selanjutnya yang tidak kalah menarik, Museum Aceh.

Museum yang terletak di Jalan Alauddin Mahmud Syah, Banda Aceh ini menyimpan berbagai pernak-pernik peninggalan sejarah masyarakat Aceh sejak era prasejarah.

Di tempat ini, para rider dapat menjumpai berbagai jenis perkakas, peralatan pertanian, peralatan rumah tangga, senjata tradisional dan pakaian tradisional. Di museum ini juga, para rider dapat melihat berbagai koleksi manuskrip kuno, dokumentasi foto sejarah dan maket dari perkembangan Masjid Agung Baiturrahman. Museum ini berdiri pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diresmikan tanggal 31 Juli 1915.



Puas mengeksplorasi Museum Aceh, tim melanjutkan perjalanan menuju Museum Tsunami Aceh. Museum Aceh memiliki bangunan yang megah dengan empat lantai, seluas 2.500 meter persegi. Ridwan Kamil sang arsitek kala itu menamai rancangannya dengan nama Rumoh Aceh as Escape Hill.

Berada di Jalan Iskandar Muda, Kota Banda Aceh, museum ini menjadi salah satu obyek yang wajib dikunjungi. Tempat ini menjadi bagian penting untuk mengenang terjadinya bencana dahsat tersebut.

Tiga tahun pasca tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, yang dikomandani Kuntoro Mangkusubroto menggelar lomba merancang museum tsunami. Rancangan Ridwan Kamil, yang kini Wali Kota Bandung, Jawa Barat, menjadi pemenangnya.



Museum ini mulai dibangun pada 2007, diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Februari 2009, dan resmi dibuka untuk umum pada 8 Mei 2009.

Sebenarnya banyak yang dapat dilihat di Museum Tsunami ini, namun karena banyak titik harus dieksplor oleh tim 7 explorer di Banda Aceh, maka tim kembali tancap gas menuju pemberhentian selanjutnya yaitu di Monumen PLTD Kapal Apung.

Kedahsyatan gelombang tsunami yang menerpa pesisir utara Banda Aceh pada Bulan Desember 2004 yang lalu ternyata masih meninggalkan jejak.

Salah satunya adalah Monumen PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung di Desa Punge, Blancut, Banda Aceh. Sesuai namanya, kapal ini merupakan sumber tenaga listrik bagi wilayah Ulee Lheue – tempat kapal ini ditambatkan sebelum terjadinya tsunami.

Kapal dengan panjang 63 meter ini mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 megawatt.

Dengan luas mencapai 1.900 meter persegi dan bobot 2.600 ton, tidak ada yang membayangkan kapal ini dapat bergerak hingga ke tengah Kota Banda Aceh. Ketika tsunami terjadi pada 26 Desember 2004, kapal ini terseret gelombang pasang setinggi 9 meter sehingga bergeser ke jantung Kota Banda Aceh sejauh 5 kilometer.

Kapal ini terhempas hingga ke tengah-tengah pemukiman warga, tidak jauh dari Museum Tsunami. Para rider cukup terperangah karena tidak menyangka dapat melihat kapal sebesar dan seberat ini bisa terdampar tengah daratan.



Dalam perjalanan dari Banda Aceh menuju Meulaboh para rider melewati yang namanya Puncak Geurute. Dalam perjalanan menuju Puncak Geurute, tim 7 Explorer memperlambat laju kendaraan mereka untuk sejenak menikmati keindahan bukit barisan yang mempesona.

Jalan yang begitu mulus mengiringi perjalanan tim menyusuri keindahan pasir putih yang terhampar di sisi kanan jalan, membuat tim serasa dimanjakan oleh keindahan yang ditawarkan.

Tak hanya jalan mendatar yang harus dilewati, namun jalan menanjak yang sempit dengan tikungan yang tajam dan curam. Sesaat setelah melewati jalan perbukitan ini para rider kembali disuguhkan pemandangan yang sangat indah.

Keindahan pantai Lhoknga dengan gradasi laut hijau toska dan biru yang berkilau dengan hamparan pasir putih yang mempesona membuat tim berhenti sejenak untuk mengabadikan moment tersebut.

Setelah tiba di Puncak Geurute, tim berhenti sejenak di warung-warung yang berada di pinggir jalan untuk bersitirahat sambil makan siang.

Uniknya, disini terdapat Kafe Siamang. Kenapa dinamakan Kafe Siamang? Karena memang di Kafe ini terdapat beberapa 'Siamang' yang menunggu diberi makan.



Selesai beristirahat, tim langsung menuju Pantai Ulee Lheue. Walau sempat diterjang ombak tsunami pada 2004 lalu ,tak menjadikan pantai ini kehilangan pesonanya, pantai Ulee Lheue ini terlihat indah dan bahkan mulai ramai dikunjungi oleh masyarakat lokal maupun wisatawan asing.

Sudah dibangunnya tanggul pengaman dan jalan dua jalur menuju pelabuhan penyeberangan Ulhe Lhee, membuat akses menuju tempat ini semakin mudah dan nyaman untuk dikunjungi. Bahkan disaat air laut sedang surut maka akan tampak batuan-batuan karang timbul ke permukaan air.

Selain menikmati pemandangan pantai Ulee Lheue ini, wisatawan juga dapat mencoba wahana permainan air yang tersedia,salah satunya yaitu perahu angsa.

Di sini tim sejenak mengambil beberapa foto baru kemudian melanjutkan perjalanan menuju Meulaboh.





(ddn/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com