Senin, 25 Mei 2015 10:05 WIB

Beberapa Penyebab Anjloknya Penjualan Motor di Indonesia Menurut Yamaha

Arif Arianto - detikOto
Jakarta - Penjualan ritel sepeda motor di Indonesia sepanjang Januari hingga April lalu telah merosot hingga 25 persen dibanding periode sama 2014. Menurut Vice President PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing Dyonisius Beti, serangkaian faktor yang memicu menurunnya daya beli masyarakat menjadi penyebabnya.

“Penyebab ini mulai dari kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) pada November 2014 lalu, kemudian kenaikan harga gas, harga beras, turunnya pendapatan nelayan sampai merosotnya harga komoditas dari luar Jawa,” papar Dyon kepada detikOto di kantornya beberapa waktu lalu.

Menurut Dyon, ketika harga BBM dikerek oleh pemerintah November 2014, telah memicu kenaikan tarif angkutan yang berujung pada naiknya harga barang-barang termasuk barang kebutuhan pokok. Efek berantai tersebut terus terjadi dan tak terkoreksi kembali meski beberapa saat kemudian harga BBM turun.

Akibat dari dampak itu, harga pangan terutama beras juga terus mengalami kenaikan. Akibatnya, anggaran rumah tangga untuk pembelian harga bahan pangan pokok khususnya beras juga meningkat.

Anggaran semakin naik ketika harga gas non subsidi juga ikut dikerek. Karena harga yang semakin mahal, maka banyak masyarakat beralih ke gas kemasan 3 kilogram atau bersubsidi yang sejatinya untuk kalangan yang berhak menerima subsidi.

Fakta itu mengakibatkan langkanya gas bersubsidi di pasaran. Walhasil, harga pun ikut naik, sehingga juga berperan ikut menguras kantong masyarakat. Pada saat yang sama, calon konsumen pembeli motor di luar juga juga menghadapi persoalan lain yakni melorotnya harga komoditas minyak sawit mentah, karet, serta kakao.

“Karena kondisi ekonomi di negara-negara tujuan ekspor di Eropa dan Tiongkok juga menurun. Sehingga pendapatan masyarakat yang mengandalkan komoditas sebagai sumber penghasilan juga merosot,” kata Dyon.

Kondisi yang sama juga dihadapi oleh nelayan akibat adanya kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang melarang penangkapan ikan dengan trawl atau pukat harimau. Sementara, di saat yang sama, ketika para nelayan berhasil mendapatkan tangkapan, fasilitas penyimpanan dan pengawetan ikan tak ada.

Sehingga, kalau pun harus menjual saat itu harga sudah turun. Ini menyebabkan pendapatan nelayan tergerus.

“Bukannya kita tidak sepakat dengan pemerintah untuk stop illegal fishing, namun sebaiknya juga dibarengi pembangunan infrastruktur cold storage, sehingga bisa meningkatkan posisi tawar nelayan,” papar Dyon.

Akibat serangkaian kejadian itulah, lanjut Dyon, daya beli masyarakat yang selama ini menjadi calon pembeli potensial sepeda motor juga menurun. Karena pendapatan yang sebagian besar terkuras untuk membeli bahan pangan pokok itulah, maka mereka menunda atau bahkan mengurungkan niat membeli sepeda motor.





(Arif Arianto/Dadan Kuswaraharja)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
dMentor
×
Ide Bisnis Snack Ala Filsa Budi Ambia
Ide Bisnis Snack Ala Filsa Budi Ambia Selengkapnya