Kamis, 16 Apr 2015 08:12 WIB

Pasar Moge Juga Melemah, Tapi Tak Sebesar Motor Biasa

- detikOto
Jakarta - Kalangan agen pemegang merek motor gede di Tanah Air mengakui geliat pasar motor mewah tak semoncer dua atau tiga tahun yang lalu, karena calon pembeli menunggu kepastian keadaan. Meski begitu, melemahnya pasar motor gede tak sebesar penurunan di pasar motor biasa.

“Harus diakui, kondisi pasar motor besar juga melemah pada saat ini. Sebab masyarakat calon pembeli masih wait and see kondisi ekonomi yang ada,” ujar Presiden Direktur PT Mabua Harley Davidson, Djonnie Rahmat, saat dihubungi detikOto, di Jakarta, kemarin.

Namun, lanjut Djonnie, melemahnya pasar moge bukan dikarenakan faktor daya beli yang melemah, melainkan dikarenakan sikap rasional mereka dalam melihat perubahan nilai tukar. Artinya, jika sebelumnya mereka membeli sebuah motor dengan harga Rp 300 juta, tapi karena dolar naik maka sekarang harus Rp 350 atau Rp 400 juta, mereka berhitung ulang.

“Apakah harga sekarang masih rasional? Jadi dampak dari nilai tukar bagi mereka, ditanggapi secara rasional,” ucapnya.

Pernyataan senada diungkapkan oleh Managing Director PT Triumph Motorcycles Indonmesia, Paulus Suranto. “Di kalangan konsumen Triumph, faktor pajak (pajak penjualan barang mewah) yang traifnya naik dari 75 menjadi 125 persen, dan nilai tukar tak jadi soal,” ucapnya saat dihubungi.

Meski begitu, mereka bersikap rasional dengan menghitung ulang apakah harga motor yang harus mereka bayar cukup rasional akibat melemahnya nilai tukar rupiah. “Dan kami, di Triumph, begitu meluncurkan model-model baru sudah kami sesuaikan dengan tariff PPnBM yang baru, dan konsumen enggak masalah. Buktinya pemesanan terus ada,” kata Paulus.

Namun, baik Paulus maupun Djonnie mengakui, ada satu alasan lain yang turut membuat calon pembeli motorb gede menahan diri dan bersikap menunggu, yakni kondisi politik. Gonjang-ganjing politik yang tensinya naik turun menjadikan mereka bersikap menunggu apa yang akan terjadi.

“Karena kegaduhan politik, apalagi kalau sampai terjadi gonjang-ganjing bisa berdampak buruk ke ekonomi. Kalau kondisi ekonomi buruk, harga tak rasional lagi, lha buat apa membeli. Jadi itu begitu, kekhawatiran mereka,” papar Djonnie.

Dia menyodorkan bukti penjualan Harley Davidson tahun lalu yang hanya 400 unit atau turun 50 persen dibanding 2013. Penurunan dikarenakan adanya pemilihan umum presiden dan anggota legistalif, selain karena adanya kenaikan tariff PPnBM.

Sementara itu, data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan, sepanjang kuartal I/2015, penjualan sepeda motor di pasar nasional melemah 19,1 persen. Sepanjang waktu itu, penjualan hanya 1.605.043 unit.

Padahal pada periode yang sama tahun lalu penjualan mencapai 1.984.076 unit.

(arf/arf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com