Dibutuhkan waktu kurang dari empat puluh menit, tetapi satu jam berikutnya untuk bisa bersandar di pelabuhan.
Jelang merapat ke pulau dewata, dari anjungan ferry, tampak gunung Agung seperti mengundang kami.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun puncak gunung diselimuti awan, masih bisa ditarik garis imajiner bentuk gunung kerucut, disebut strato volcano. Bila sudah melihat bentuk gunung Agung, menandakan kami telah tiba di Bali.
Dari Padang Bai, kami melanjutkan short riding ke arah Kintamani, dari titik rendah menuju ketinggian Kintamani.
Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan keragaman budaya dan alam,dalam bentuk ornamen upacara keagaamaan yang diselenggarakan serentak di kawasan dataran tinggi Kintamani.
Jalan sempit dan menanjak menuju kawah gunung Batur tampaknya bukan masalah buat Viar Cross X 200 SE, karena tim ini pernah diuji tanjakan yang lebih berat di perjalanan sebelumnya.

Lelah menikung dan mengimbangi laju kuda besi ini, akhirnya terbayar dengan mengunjungi salah satu pura terbesar di Bali.
Di pura Besakih kami tidak lupa mengabadikan, menandainya dengan foto. Riding dilanjutkan menuju titik tertinggi di Kintamani.
Dari pematang kawah, seakan kami diajak pada peristiwa lampau, menyaksikan kembali kelahiran danau Batur karena letusan dahsyat sejak 1804, kemudian ditutup letusan freatik tahun 2000.

Namun letusan purba 30 ribu tahun lalu membentuk danau Batur, berbentuk bulan sabit menempati bagian tenggara, dengan panjang sekitar 7,5 km dan lebar 2,5 km dan luas keliling sekitar 22 km. Tahun 1926, aliran lahar hujan menimbun desa Batur dan Pura Ulun Danau Batur.

Ikuti juga perjalanan Viar Jelajah Indonesia di link ini
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Pick Up 4x4 India Jadi Kendaraan Operasional: Biaya Perawatan Mahal-Suku Cadang Terbatas