Uang Muka Naik, Penjualan Motor Turun 30%

Uang Muka Naik, Penjualan Motor Turun 30%

- detikOto
Kamis, 11 Agu 2011 14:55 WIB
Uang Muka Naik, Penjualan Motor Turun 30%
Jakarta - Wacana kenaikan uang muka kredit kendaraan yang digelontorkan Bank Indonesia terus menjadi kontroversi. Untuk industri roda dua, kenaikan uang muka diprediksi akan memukul penjualan. Pasar motor pun diprediksi akan turun hingga 30 persen bila wacana ini jadi kenyataan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Senior General Manager Sales Division PT Astra Honda Motor (AHM) Sigit Kumala kepada detikOto di Jakarta.

"Wah, bisa repot industri motor. Sekarang saja kita masih dipusingkan dengan kenaikan BBN (Bea Balik Nama), kalau ditambah ini, bisa makin repot. Turunnya bisa 30 persen," ungkap Sigit.

Sigit lalu menjelaskan kalau kenaikan BBN sebesar 50 persen dari 10 persen ke 15 persen saja terhitung sudah mengganggu penjualan. Apalagi ditambah kenaikan lain.

"Kenaikan BBN sudah beberapa bulan saja kita masih terpukul sampai sekarang. Padahal baru 13 provinsi yang menerapkannya, masih ada 20 provinsi lagi yang siap, itu saja masih kita pikirkan, eh sudah ada wacana seperti ini," keluhnya.

Alasan Bank Indonesia yang menganggap industri otomotif Indonesia akan mengalami bubble (gelembung) pun dianggap adalah sebuah ketakutan yang berlebihan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena saya sudah bicara dengan beberapa pengamat dan semuanya ngomong kalau NPL (Non Performing Loan) kita masih aman, masih di bawah 2 persen," tandasnya.

Honda sendiri di bulan Juli berhasil menjual 363.400 motor dengan total 2.464.003 motor selama 2011 ini.

Sebelumnya BI mewanti-wanti terjadinya bubble (gelembung) di sektor otomotif. Beberapa perubahan tengah disiapkan seperti rencananya menaikan uang muka kredit kendaraan lebih besar.

"Misalnya kita mau beli mobil kan bank bayarin 90% kita bayar 10% makanya kita nanti down payment diperbesar. Angkanya nanti yah," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi Agus Sarwono beberapa waktu lalu.

Selama ini kata Hartadi ada yang namanya loan to value ratio. Konsep itu diakuinya memang belum diterapkan secara sistematis, namun secara rata-rata menggunakan komposisi kredit bank 90% dan 10% uang konsumen.

Pro-kontra pun muncul. Para pelaku industri otomotif baik roda empat maupun roda dua beramai-ramai menolak wacana tersebut karena akan membuat lesu industri otomotif Indonesia yang sedang bergairah.

Dan sebagai informasi, pasar otomotif di Indonesia tahun 2011 ini diperkirakan akan mampu menyerap 830 ribu mobil dan 8 jutaan motor.


(ddn/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads