Kehadiran Program Motor Listrik Nasional (Molinas) disebut punya kekuatan untuk mengacak-acak dominasi yang selama ini dipegang segelintir pabrikan konvensional.
"Program Molinas memiliki potensi sangat besar untuk memperkuat industri dalam negeri sekaligus mengacak-acak peta persaingan pasar roda dua di Indonesia. Namun, keberhasilannya bergantung pada bagaimana pemerintah dan pelaku industri mengelola sejumlah variabel kunci," kata Djoko Setijowarno , Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) dalam keterangannya dikutip Selasa (18/8/2026).
Selama ini pasar motor Indonesia dikuasai segelintir merek besar yang posisinya relatif aman bertahun-tahun. Masuknya Molinas dengan dukungan insentif negara berpotensi menggoyang posisi mapan itu, pemain baru bisa merebut pangsa pasar yang tadinya "terkunci".
Untuk bisa benar-benar mengacak-acak peta persaingan, Djoko menyebut Molinas butuh amunisi. Amunisi itu bernama insentif pemerintah.
Menurut Djoko, insentif dinilai bukan sekadar kebijakan pelengkap, melainkan faktor kunci paling kritis yang menentukan apakah Molinas mampu bersaing secara komersial dan mendorong migrasi massal masyarakat dari motor bensin ke motor listrik.
"Insentif pemerintah adalah intervensi wajib dalam fase transisi ini. Insentif tidak hanya berfungsi menurunkan harga agar terjangkau oleh daya beli masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen proteksi terarah agar industri kendaraan listrik nasional dapat tumbuh, membangun kemandirian teknologi, dan pada akhirnya mampu berdiri mandiri tanpa bergantung pada subsidi di masa depan," tambah dia.
Dia mewanti-wanti distribusi motor listrik dinilai perlu diperketat di kawasan perkotaan, tapi justru diperluas ke wilayah perdesaan, pulau-pulau kecil, serta daerah penghasil mineral di luar Jawa yang selama ini belum menikmati akses kendaraan listrik.
Lebih lanjut, insentif dan pemotongan harga bisa memicu lonjakan kepemilikan kendaraan pribadi. Jika masyarakat membeli motor listrik hanya sebagai kendaraan tambahan -- bukan pengganti motor lama atau alih moda ke angkutan umum -- maka yang teracak-acak bukan cuma peta pasar, tapi juga ruang jalan yang makin sesak.
"Pada dasarnya, motor listrik nasional sekadar mengalihkan sumber emisi dari bahan bakar fosil ke energi listrik, tanpa mengurangi volume kemacetan di perkotaan. Solusi utama untuk mengurai kemacetan tetap bertumpu pada penguatan dan elektrifikasi transportasi umum massal," kata Djoko.
Presiden Prabowo Subianto sudah program motor listrik nasional. Prabowo memang tak secara khusus meluncurkan satu model motor listrik. Namun pada kesempatan itu, ada beberapa motor listrik merek lokal yang dipamerkan, antara lain Alva dan juga Gesits. Kemudian di panggung acara peresmian, ada motor listrik bernama Cakra NX1 dengan tampilan amat mirip Alva N3.
Pemerintah menargetkan bakal ada 75 ribu unit motor listrik nasional yang diproduksi pada tahun ini.
Simak Video "Video Strategi Bos Danantara Agar Motor Listrik Nasional Makin Dilirik"
(riar/din)