Harga mobil bukan satu-satunya biaya yang harus disiapkan konsumen. Setelah mobil dibawa pulang, masih ada sederet pengeluaran yang menanti.
Mulai dari servis berkala, suku cadang, bahan bakar, pajak, asuransi hingga penyusutan nilai kendaraan. Karena itu, biaya memiliki mobil perlu dihitung secara lebih menyeluruh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsep tersebut dikenal sebagai Total Cost of Ownership (TCO). Sederhananya, TCO menghitung berapa besar biaya yang harus dikeluarkan selama mobil dimiliki.
Ilustrasi bengkel mobil Suzuki lawas. Foto: Suzuki |
Awal Perhitungan
Harga beli memang menjadi pengeluaran terbesar di awal. Namun, biaya selama menggunakan mobil juga tidak boleh diabaikan.
Sebagai ilustrasi, sebuah mobil dibeli Rp 300 juta dan digunakan selama lima tahun atau 75.000 km. Jika biaya operasional dan perawatan mencapai Rp 100 juta, sementara harga jual kembalinya Rp 180 juta, depresiasi mobil mencapai Rp 120 juta.
Artinya, TCO tidak hanya melihat selisih harga beli dan harga jual kembali. Biaya selama mobil digunakan juga harus masuk perhitungan.
Besarnya biaya tentu berbeda pada setiap mobil. Pola penggunaan juga ikut memengaruhi. Karena itu, simulasi sebaiknya menggunakan data kendaraan yang benar-benar akan dibeli.
After Sales Jadi Pertimbangan
Di sinilah layanan purnajual ikut menentukan biaya kepemilikan. Konsumen perlu melihat apakah mobil mudah dirawat, suku cadangnya tersedia dan bengkel resminya mudah ditemukan.
Suzuki, misalnya, menyediakan fasilitas estimasi biaya servis melalui situs resminya. Konsumen bisa memilih model, transmisi serta jarak tempuh atau periode perawatan untuk melihat perkiraan biayanya.
Suzuki juga menyediakan booking servis, jaringan diler dan bengkel resmi, ketersediaan suku cadang hingga Suzuki Home Service untuk kebutuhan tertentu.
Perawatan berkala bukan hanya menjaga performa. Servis sesuai jadwal juga dapat membantu mencegah kerusakan yang berujung pada biaya lebih besar.
Biaya Servis
Biaya servis yang terlihat kecil bisa menjadi signifikan jika dihitung selama bertahun-tahun.
Sebagai contoh, ada dua mobil dengan harga Rp 300 juta dan Rp 320 juta. Mobil pertama membutuhkan biaya perawatan Rp 25 juta selama lima tahun, sedangkan mobil kedua Rp 15 juta.
Mobil kedua memang lebih mahal Rp 20 juta saat dibeli. Namun, setelah biaya perawatan dimasukkan, selisih biaya kepemilikannya menjadi lebih kecil.
Hitungan tersebut belum memasukkan BBM, pajak, asuransi, ban, depresiasi dan biaya tak terduga. Jadi, contoh ini bukan perbandingan TCO resmi.
Cara sederhananya, konsumen bisa meminta simulasi biaya servis hingga lima tahun atau 75.000 km sebelum membeli mobil.
Servis Gratis
Program servis gratis juga bisa memangkas biaya perawatan pada periode awal kepemilikan.
Suzuki memberikan program tersebut untuk sejumlah model. Pada Suzuki Fronx, misalnya, servis gratis mencakup jasa dan komponen tertentu hingga 50.000 km atau 30 bulan.
Saat peluncuran Fronx, Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales Donny Saputra menyebut layanan tersebut menjadi salah satu nilai tambah kendaraan, bersama garansi, jaringan purnajual dan ketersediaan suku cadang.
Meski begitu, konsumen tetap perlu melihat detail program. Cakupan jasa dan komponen yang ditanggung bisa berbeda pada setiap model dan mengacu pada buku servis kendaraan.
Jaringan Bengkel
Bengkel juga menjadi pertimbangan penting, terutama bagi konsumen yang sering bepergian ke luar kota.
Suzuki memiliki jaringan diler dan bengkel resmi di berbagai wilayah Indonesia. Ada pula Halo Suzuki 24 jam untuk informasi produk, after sales, lokasi diler, booking servis hingga bantuan darurat.
Untuk kondisi tertentu, Suzuki menyediakan Suzuki Emergency Roadside Assistance (SERA). Layanan ini mencakup panduan teknisi melalui telepon dan bantuan teknisi di lokasi.
Pada program Bengkel Siaga 2026, Suzuki menyiagakan 71 titik bengkel. Sebanyak 33 outlet di antaranya beroperasi 24 jam.
Nilai Jual Kembali
Suku cadang juga menjadi bagian dari biaya kepemilikan. Bukan cuma harganya, tetapi juga seberapa mudah komponen tersebut didapat ketika dibutuhkan.
Nilai jual kembali tak kalah penting. Mobil yang terawat dan memiliki riwayat servis jelas berpotensi lebih mudah dipertimbangkan di pasar mobil bekas.
Dalam perhitungan TCO, harga jual kembali akan mengurangi beban depresiasi. Semakin tinggi nilai mobil saat dijual, semakin kecil biaya kepemilikan bersihnya.
Membandingkan Biaya 5 Tahun
Sebelum membeli mobil, konsumen sebaiknya tidak hanya membandingkan harga on the road.
Hitung juga estimasi servis lima tahun, suku cadang fast moving, konsumsi BBM, pajak, asuransi dan perkiraan harga jual kembali.
Dengan asumsi pemakaian 15.000 km per tahun, konsumen bisa meminta simulasi biaya hingga 75.000 km. Angka tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan mobil lain menggunakan parameter yang sama.
Dengan begitu, konsumen tidak hanya tahu harga mobil saat dibeli. Biaya sebenarnya selama lima tahun kepemilikan juga bisa terlihat.
Sebab, harga di brosur hanyalah biaya untuk membawa mobil pulang. Setelah itu, perjalanan biaya kepemilikan baru dimulai.
(sfn/dry)











































