Penjualan LCGC Terjun Bebas, Konsumennya 'Digencet' Sana-sini

Penjualan LCGC Terjun Bebas, Konsumennya 'Digencet' Sana-sini

Dina Rayanti - detikOto
Rabu, 28 Jan 2026 07:38 WIB
Penjualan LCGC Terjun Bebas, Konsumennya Digencet Sana-sini
Mobil LCGC Toyota Agya. Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Penjualan LCGC sepanjang tahun 2025 terjun bebas. Konsumen LCGC tengah mengalami masalah yang pelik.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, pada tahun 2025 penjualan mobil di segmen LCGC (Low Cost Green Car) turun hingga 27 persen. Bila pada tahun 2024 penjualannya masih tembus 178.726 unit, maka pada tahun 2025 hanya 130.799 unit. Situasi ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pembeli mobil pertama yang kebanyakan mengincar mobil LCGC tengah mengalami masa sulit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengamat otomotif Bebin Djuana berpendapat, merosotnya penjualan LCGC ini memang tak lepas dari permasalahan yang menghantui konsumen di segmen tersebut. Kata Bebin, konsumen LCGC amat terdampak dari kondisi perekonomian Indonesia yang tengah turun saat ini.

"Makanya tidak perlu terkejut jika angkanya menukik tajam. Nah kalaupun mau ditolong dan sebagainya, konsumennya sedang bermasalah," ungkap Bebin saat berbincang dengan detikOto melalui sambungan telepon, Selasa (27/1/2026).

ADVERTISEMENT

Permasalahan yang dimaksud kata Bebin, pembeli LCGC itu tidak memiliki dana untuk membeli mobil. Padahal sebenarnya keinginan membeli mobil itu ada.

"Kalau yang di bawah (segmen bawah) memang sudah terlalu mepet budgetnya, dan mereka akan memprioritaskan apa, pendidikan anak, masalah kesehatan, masalah perumahan, iya dong? Mereka lebih ngitung, saya ini mesti menyisihkan uang berapa untuk bayar cicilan rumah ketimbang bikin masalah baru ngambil mobil," ujarnya.

Bukan cuma itu, deretan mobil listrik yang punya harga tak jauh berbeda dari LCGC juga jadi tantangan selanjutnya. Sebab, kehadiran mobil listrik harga terjangkau itu bikin para pembeli mobil pertama yang biasa mengincar LCGC justru beralih. Terlebih, biaya operasional mobil listrik diklaim lebih murah ketimbang mobil bermesin konvensional. Pun lagi di kota besar seperti Jakarta, mobil listrik juga dapat keistimewaan ganjil genap.

"Karena sekarang kan LCGC udah nggak murah-murah amat. Tidak seperti dulu waktu diperkenalkan. Nah sekarang udah ada EV harganya kira-kira ada di garisnya LCGC. Masyarakat kan tahu keseharian, biaya per kilometernya listrik kan sepertiga daripada beli bensin," tutur Bebin.

Menurut Bebin, pemerintah harus gerak cepat untuk membantu sektor otomotif Tanah Air yang sedang lesu. Dengan demikian diharapkan penjualan mobil termasuk segmen LCGC bisa bergairah lagi. Bantuan yang efektif salah satunya berupa pengurangan pajak. Namun sifatnya harus permanen.

"Kalau sudah bicara sektor otomotif ya semua harus dirangkul supaya bisa semua bergulir karena kebutuhan masyarakat kan bermacam-macam," pungkasnya.




(dry/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads