Dukung Karya Anak Bangsa, Bamsoet Pesan Mobil Klasik Restorasi

Erika Dyah - detikOto
Senin, 10 Mei 2021 18:26 WIB
Bamsoet
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo menyampaikan kekagumannya akan kreasi Tuksedo Studio Bali. Dalam kunjungannya ke studio ini, ia mengapresiasi karya anak bangsa yang mampu memproduksi dan merestorasi berbagai mobil klasik.

Bamsoet menyebutkan Tuksedo Studio mampu merestorasi berbagai mobil klasik seperti Porsche 356 Speedster (1957), Porsche 356 A Coupe (1955-1959), Porsche 550 Spyder (1953-1956), Mercedes Benz 300 SL Gullwing (1954-1957), Toyota 2000 GT 1968 (1967-1970), Jaguar XK 120 (1948-1954), Ferrari 250 GTO (1962-1964), hingga Maserati 450S (1956-1958), dan berbagai mobil klasik lainnya.

Bamsoet diketahui langsung memesan untuk dibuatkan Mercedes-Benz 300 SL Gullwing model tahun 1957. Ia menyampaikan hal ini pada pemilik Tuksedo Studio, Puji Handoko sebagai bentuk dukungan terhadap karya anak bangsa dalam pengembangan restorasi mobil klasik Indonesia.

Bamsoet menambahkan pembuatan mobil pesanannya diperkirakan akan memakan waktu sekitar enam bulan.

"Berbagai mobil karya Tuksedo Studio menjadi collector item yang mampu memenuhi hasrat para pencinta mobil klasik. Sekaligus membuktikan kepada dunia, bahwa Indonesia juga bisa meramaikan dunia produksi dan restorasi berbagai mobil klasik, yang kini juga sedang digandrungi oleh builder dari berbagai negara," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (10/5/2021).

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan salah satu karya ikonik Tuksedo Studio yang baru saja diperkenalkan adalah Porsche 356 Speedster. Ia menyebutkan mobil ini memiliki dimensi ukuran wheelbase 2.1000 mm, panjang 3.870mm lebar 152.4mm serta tinggi 1.220mm.

Adapun karya ini dibentuk dari tempaan aluminium setebal 1,5- 2.5mm. Basic mesinnya, kata Bamsoet, memakai kepunyaan Volkswagen 1.300CC dan Mercedes-Benz 300 SL Gullwing tahun 1957 yang harganya di pasaran dunia mencapai angka US$ 2 juta atau setara hampir Rp30-an miliar karena terbuat dari bahan aluminium

"Bukan hal mudah menciptakan deretan mobil klasik yang ikonis. Dimulai dari tahap 3D Design, rekonstruksi rangka, dan memasang pelat aluminium berbobot ringan. Selain juga tidak melupakan pembangunan aspek estetika dan ergonomika mobil," jelas Bamsoet.

Bamsoet juga menerangkan industri produksi, restorasi, hingga modifikasi otomotif tidak sekadar mengubah kendaraan keluaran pabrik dengan beragam aksesori aftermarket yang dibuat massal. Menurutnya, hal ini juga turut memperkuat identitas dan aktualisasi diri si pemilik kendaraan.

"Sekaligus membuka lapangan pekerjaan di sektor otomotif dan ekonomi kreatif. Tuksedo Studio saja bisa mempekerjakan sekitar 64 pemuda sarjana berbagai perguruan tinggi di Bali, ini pun masih akan bertambah lagi. Kehadirannya juga menarik banyak wisatawan, yang penasaran ingin melihat aktivitas keseharian tim Tuksedo Studio. Menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata otomotif di Bali," pungkas Bamsoet.

(mul/mpr)