Selasa, 16 Jun 2020 17:09 WIB

Siapa yang Masih Kuat Beli Mobil di Tengah Pandemi?

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Beli Mobil Di tengah pandemi COVID-19, masih ada konsumen yang membeli mobil baru. (Shutterstock)
Jakarta -

Di tengah pandemi virus Corona (COVID-19), masih ada masyarakat yang rela mengeluarkan duitnya untuk membeli mobil. Setidaknya berdasarkan data penjualan mobil, lebih dari 17 ribu unit mobil terjual pada Mei 2020.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil secara retail (dari dealer ke konsumen) tercatat hanya 17.083 unit. Angka itu memang turun 91,8% dari pencapaian Mei tahun lalu yang mencapai 94.111 unit.

"Tahun ini memang sangat-sangat berbeda dibandingkan tahun lalu, mungkin selama belakangan ini jadi pelajaran buat kita," kata Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi saat berbincang dengan wartawan melalui video conference, kemarin.

Anton melaporkan, penjualan mobil Toyota pada Mei secara retail sales tercatat sebanyak 6.727 unit. Dengan pasar sebesar 17.083 unit, Anton menyebut Toyota meraih pangsa pasar sebesar 39,4%.

"Memang kalau dibandingkan bulan-bulan sebelumnya mengalami penurunan, karena di April retail sales Toyota 8.700-an. Tapi kita juga bersyukur walaupun market berat kita bisa mempertahankan market share nomor satu dan market share 39%," sebutnya.

Siapa saja yang beli mobil di tengah pandemi? Menurut Anton, saat awal-awal pandemi COVID-19 pada akhir Maret sampai April, segmen yang bertahan membeli mobil kebanyakan adalah pembeli mobil tambahan. Artinya, konsumen sudah punya mobil dan membeli mobil baru lagi saat pandemi.

"First buyer (pembeli mobil pertama yang sebelumnya tidak memiliki mobil) tetap besar ya, tapi mengalami penurunan. Kenapa mengalami penurunan, saya rasa pasti impact ekonominya paling terasa di segmen bawah. Kedua, selain COVID, yang menyebabkan turun adalah leasing tightening, pengetatan dalam seleksi konsumen yang diberikan kredit, terutama yang level down payment-nya di bawah 20%, DP-nya naik, dulu 20% jadi 30-40%. Ini sangat memberatkan untuk segmen-segmen pembeli mobil pertama," kata Anton.

"Jadi yang masih bertahan, segmen yang masih benar-benar memiliki kekuatan uang, walaupun sebagian masih kredit tapi membayar DP 20-30%. Yang masih bertahan lebih banyak segmen additional dan replacement (penggantian mobil dengan tukar tambah) karena mereka sudah punya modal untuk tukar tambah," sebutnya.

Menurut Anton, kini konsumen yang berniat membeli mobil mulai bangkit lagi, terutama setelah Lebaran. Segmen pembeli mobil pertama dan pembeli mobil pengganti yang selama beberapa bulan mengalami kesulitan ekonomi mulai bangkit.

"Kami melihat dengan adanya situasi ekonomi di transisi ini mulai ada pembelian mobil pertama dan replacement kembali walaupun belum saya katakan normal, dan juga konsumen fleet mulai komunikasi dengan kami. Walaupun belum bisa normal, tapi optimis di Juni kelihatannya market akan memberikan sinyal positif," ujar Anton.



Simak Video "Alasan Toyota Recall Mobil Innova dan Fortuner"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com