Jumat, 21 Feb 2020 09:28 WIB

Mobil Bakal Kena Cukai, Industri Otomotif Dibuat Bingung

Ridwan Arifin - detikOto
Ratusan mobil merk Toyota yang siap di ekspor berada di Indonesia Kendaraan Terminal, Tanjung Priok,  Jakarta Utara, Rabu (5/9). Toyota Indonesia mencatat telah mengekspor total 1,38 juta unit kendaraan completely built up (CBU)‎ sejak mulai pengapalan Kijang generasi ketiga pada Agustus 1987 hingga Juli 2018. Ada wacana kendaraan kena cukai (Pradita Utama/detikOto)
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan wacana mobil dikenakan cukai. Hal ini disampaikan dalam ruang rapat Komisi XI DPR RI, Rabu (19/2) kemarin.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi belum mengetahui rencana pengenaan cukai mobil tersebut.

"Belum (diajak duduk bersama), kita belum punya kesempatan untuk kita duduk bareng dengan Kementerian Keuangan untuk membicarakan perihal ini," ujar Nangoi saat dihubungi detikcom, Kamis (20/2/2020).

Nangoi mengungkapkan saat ini dirinya bingung terkait usulan pemerintah di atas. Sebab, sebelumnya sudah terbit Peraturan Pemerintah No. 73/2019 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.

"Saya nggak ngerti apakah ini (cukai kendaraan bermotor) merupakan satu tambahan atau perubahan itu (PPnBM), masih belum jelas," tambah Nangoi.

Sri Mulyani menjelaskan subjek cukai atau yang wajib membayar cukai emisi karbon adalah pabrikan dan importir. Pabrikan yang dimaksud adalah produsen dalam negeri. Adapun pembayaran dilakukan secara berkala setiap bulan. Pembayarannya saat produk keluar dari pabrik atau pelabuhan untuk diekspor.

Diungkapkan Sri Mulyani ada pengecualian terhadap pengenaan cukai mobil, yakni kendaraan listrik, kendaraan umum, pemerintah, kepemilikan khusus seperti damkar, ambulans, serta kendaraan untuk diekspor.

Nangoi menjelaskan industri belum menentukan sikap terkait wacana tersebut, Dia berharap pemerintah bisa duduk bersama sebelum aturan itu diterbitkan salah satunya mengenai klasifikasi pengenaan cukai.

"Kita mesti diskusi dulu tujuannya mau apa. Seperti cukai untuk plastik, jadi kelihatan kalau Anda pakai plastiknya banyak otomatis Anda harus bayar lebih kan, karena itu membuat kotor dan susah didaur ulang," tuturnya.

"Tapi kalau mobil, misalnya ada orang beli mobil cuma dipakai weekend, atau mungkin cuma dipakai pajangan apakah harus membayar cukai emisi? sedangkan mobil nggak dipakai, sedangkan mobil yang dipakai sehari-hari apakah (pengenaan cukai-Red) emisinya juga sama, ini masih belum jelas," ungkap Nangoi.

Mobil Bakal Kena Cukai, Industri Otomotif Dibuat Bingung


Simak Video "Sri Mulyani Beri Program Penjaminan Kredit Rp 100 T"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com