Jumat, 07 Feb 2020 08:25 WIB

Menguji Mobil 'Hijau' Mitsubishi Seharga Rp 1,2 Miliar

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Mitsubishi Outlander PHEV Mitsubishi Outlander PHEV, mobil listrik yang berbnderol Rp 1,2 miliar (Dok. Mitsubishi)
Jakarta -

Outlander PHEV bisa dibilang mobil plug-in hybrid yang unik dengan tiga metode berkendara. Dihargai Rp 1 Miliar lebih, detikOto merasakan langsung kemampuan SUV yang satu ini.

Indonesia tengah menuju era elektrifikasi kendaraan. Sedikit demi sedikit pabrikan otomotif mulai bergerak menjual mobil ramah lingkungan. Salah satunya Mitsubishi dengan Outlander PHEV.

Mobil yang dibanderol Rp 1.294.000.000 ini mengusung teknologi plug-in hybrid atau kombinasi mesin bakar dan motor listrik yang baterainya bisa dicas langsung di instalasi listrik rumah. Selain itu, teknologi plug-in hybrid juga memungkinkan mobil ini berlari hanya dengan mengandalkan tenaga listrik.

Kali ini detikcom berkesempatan mencoba langsung Outlander PHEV di Lombok dalam agenda acara test drive beberapa mobil Mitsubishi. detikcom lebih dulu mencoba menjadi pengemudi Outlander PHEV untuk membuktikan seberapa tangguh mobil ini.



Mitsubishi Outlander PHEV mengusung mesin bensin 2.4 liter. Mesin itu dikombinasi dengan motor listrik yang punya tenaga 60 kW di roda depan dan 70 kW pada roda belakang. Soal tenaga, mesin konvensional bisa memuntahkan tenaga maksimal 132,8 dk dengan torsi 211 Nm.

Outlander PHEV dikatakan menjadi salah satu mobil plug-in hybrid yang unik, sebab memiliki tiga mode berkendara, yakni mode EV, mode HEV, dan juga mode Parallel Hybrid.

Pada mode EV, mobil akan bergerak dengan tenaga listrik yang dialirkan dari baterai ke motor listrik di roda depan dan belakang.

Selanjutnya pada mode HEV (Hybrid Electric Vehicle), saat baterai berkurang, maka mesin akan membantu 'ngecas' baterai agar memiliki kapasitas baterai yang stabil. Mesin konvensional akan berperan mirip generator. Sementara pada mode Parallel Hybrid, sistem ini berfungsi di saat pengendara membutuhkan tenaga lebih. Misalnya ketika baterai mulai berkurang, maka mesin konvensional akan tetap menjaga pasokan baterai, dan baterai akan memberikan energi pada motor listrik yang berada pada roda depan dan belakang.

Selama perjalanan pertama pagi tadi dengan jarak sekitar 39 km, kami memilih mode EV. Dengan mode EV, mobil melaju hanya dengan penggerak listrik. Posisi baterai saat itu dalam kondisi sekitar 80%. Di mode EV, ketika baterai di bawah 20%, maka mesin bensin akan menyala untuk membantu mengisi ulang daya baterai.



Selama perjalanan 35 km, mesin bensin sama sekali tidak menyala. Artinya, sejauh itu mobil hanya mengandalkan tenaga listrik yang disimpan baterai. Baru setelah 35 km, mesin menyala untuk membantu baterai mempertahankan pasokan listriknya. Fungsi mesin yang menyala itu bukan menggerakkan roda, melainkan untuk mengisi ulang daya baterai, seperti sebuah generator.

Rasanya mengendarai Outlander PHEV, mobil terasa cukup nyaman karena benar-benar senyap. Meski mesin menyala, getaran mesin tak terdengar bising ke dalam kabin.

Karena mengandalkan tenaga listrik yang torsinya cukup besar, sekali tekan pedal gas mobil langsung meluncur, tidak seperti mobil bermesin bakar lainnya yang kemungkinan memiliki jeda akselerasi.



Sementara itu, rencananya dalam rangkaian acara ini tak hanya ada Outlander PHEV yang diuji. Ada juga beberapa mobil Mitsubishi baru lainnya yang ikut dites.

"Hari ini kami mempersiapkan line up yang paling baru dari Mitsubishi. Pertama Xpander Cross sebagai crossover kami terbaru, dan tentunya SUV berteknologi terbaru Eclipse Cross dan Triton yang tanggguh di segala medan dan yang terbaru juga yaitu Outlander PHEV," kata Director of Product Strategy Division PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia Ryoichi Inaba di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Kamis (6/2/2020).



Simak Video "Menjajal Outlander PHEV, Mobil Ramah Lingkungan Mitsubishi"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com