Kamis, 19 Sep 2019 09:17 WIB

Kenapa Orang Malas Pakai Safety Belt?

Ridwan Arifin - detikOto
Pengendara mobil yang kena tilang karena tak pakai seat belt. Foto: Cici Marlina Rahayu/detikcom Pengendara mobil yang kena tilang karena tak pakai seat belt. Foto: Cici Marlina Rahayu/detikcom
Jakarta - Sabuk pengaman atau seat belt menjadi fitur keamanan yang vital. Di Indonesia sendiri, tidak menggunakan seat belt masih mendominasi pelanggaran di jalan raya.

Hal ini sempat dikemukakan Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP M Nasir yang tertangkap Sistem Electronic-Traffic Law Enforcement (E-TLE).

"Jumlah terbesar pelanggaran E-TLE sampai saat ini adalah pelanggaran rambu dan marka, kedua adalah pelanggaran gage, yang ketiga adalah pelanggaran (tidak mengenakan) seat belt," urai Nasir beberapa waktu yang lalu.



Kelalaian tidak menggunakan sabuk pengaman rupa-rupanya tidak hanya terjadi di Indonesia.

Mengutip dari laporan BBC, di Inggris yang dikenal sebagai tempat aman mengemudi di Eropa, sebanyak 27 persen dari 787 pengemudi atau penumpang yang meninggal di tahun 2017 karena tidak menggunakan seat belt.

Disebutkan dari jumlah tersebut kebanyakan adalah usia yang masih produktif, berkisar antara 17 - 34 tahun. Rentang umur tersebut lebih rentan dan memiliki kebiasaan menggunakan sabuk pengaman terendah, serta dikombinasikan dengan tingkat kecelakaan tertinggi.

Temuan lain, dari Departemen Transportasi di Inggris menyatakan orang dewasa yang tidak menggunakan seat belt karena alasan lupa dan beberapa orang mengatakan tidak nyaman. Sementara yang lainnya menyebut tergantung jarak perjalanan, misalnya akan menggunakan ketika menempuh rute yang panjang, di jalan raya, dan tempat asing.



Juru Bicara Keselamatan Berkendara RAC, Pete Williams menyebut alasan lain karena pengguna mobil merasa aman selama berada di dalam mobil tanpa menggunakan sabuk pengaman.

"Pengemudi pada umumnya juga mungkin berasa lebih tertutup dan kurang berisiko karena tingkat fitur keselamatan di mobil mereka. Seperti kantung udara, pengereman otomatis, dan perlindungan benturan samping," ujar Pete Williams.

Lebih lanjut, Ian Reagan, seorang psikolog dan analis penggunaan seat belt dari Insurance Institute for Highway mengatakan ditemukan pandangan salah kaprah dari penumpang mobil.

"Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah bahwa orang benar-benar percaya bahwa mereka lebih aman di kursi belakang dari pada kursi depan," kata Ian Reagan seperti dikutip dari New York Times.

"Penelitian telah menunjukkan bahwa penumpang kursi belakang yang tidak menggunakan seat belt memiliki risiko tiga kali lebih besar mengalami cedera fatal, ketimbang mereka yang memakainya," kata Ian.

Simak Video "Perkenalkan Mahindra Scorpio, Pikap India Seharga Rp 200 Jutaan"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com