Selasa, 10 Sep 2019 13:18 WIB

Bikin Mobnas, Vietnam dan Malaysia Comot Teknologi BMW-Mitsubishi

Dina Rayanti - detikOto
Foto: Dina Rayanti Foto: Dina Rayanti
Jakarta - Membangun mobil nasional dari awal bukan perkara mudah, sekalipun industri otomotif di negara tersebut sudah maju. Sebenarnya ada beberapa cara yang bisa ditempuh oleh suatu negara demi membangun mobil nasional. Malaysia misalnya. Saat pertama kali mengembangkan mobil nasionalnya Proton justru 'mencomot' mesin pabrikan Jepang Mitsubishi.

Mesin Mitsubishi digunakan sebagai jantung dari mobil pertama Proton yang meluncur tahun 2013, hingga akhirnya Proton bisa membuat mesin sendiri.


Selain Mitsubishi, Proton juga diketahui pernah menggunakan mesin dari Renault dan Citroen pada mobilnya, hingga akhirnya bisa berdikari membuat mesin sendiri yang dinamakan CamPro. Mesin ini diciptakan Proton bersama dengan merek Lotus.

Cara serupa juga ditempuh oleh VinFast, merek mobil nasional pertama Vietnam. Vietnam yang cukup ambisius dalam membuat mobil nasional pertamanya itu menggaet banyak ahli otomotif dalam memproduksi VinFast.

VinFast. Foto: Kham/Reuters


VinFast pada model SUV dan sedannya justru mengusung rangka dan mesin 2.0L dari BMW Seri 5. Sementara untuk platform, sedan Lux A2.0 mengambil dari BMW Seri 5 dan SUV-nya memboyong basis X5.


Pinjam-meminjam platform dan mesin dalam dunia otomotif ini disebut Ketua I Gaikindo Jongkie D Sugiarto sebagai hal biasa. Menurutnya banyak juga pabrikan yang di awal memproduksi mobilnya justru meminjam teknologi merek lain.

"Option lain (membuat merek nasional) kita bisa membeli teknologi, membayar tentunya dan membuat mobil tersebut dengan merek nasional. Kan bisa kayak Proton beli teknologi dari Mitsubishi, Hyundai juga dari begitu dari Mitsubishi," ungkap Jongkie saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Soal pinjam-meminjam teknologi dalam dunia otomotif ini kembali ramai diperbincangkan ketika PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) meluncurkan mobil pertamanya pick-up Esemka Bima. Wujudnya yang mirip dengan mobil merek China Changan, membuat Esemka dituding hanya sekadar menjiplak.


Namun Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan antara PT SMK dan merek China punya kerja sama, sehingga pertukaran platform wajar adanya.

Esemka BimaEsemka Bima Foto: Ragil Ajiyanto


"Ya kan kalau mobil itu multisource multiplatform kan itu biasa. Kita nggak bisa bilang ini cuma jiplak, dibikin di mana juga, jadi itu biasa," ungkap Airlangga.

Simak Video "Tonton Kendaraan Tempur Made in Indonesia yang Mendunia"
[Gambas:Video 20detik]
(dry/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com