Jumat, 03 Mei 2019 09:59 WIB

Beli Mobil Murah Malah Bikin Sulit?

Ruly Kurniawan - detikOto
Ilustrasi mobil murah. Foto: detikOto Ilustrasi mobil murah. Foto: detikOto
Jepara - Dewasa ini, mobil murah semakin banyak saja. Mulai dari yang berbanderol Rp 150 juta sampai Rp 250 jutaan banyak ragamnya. Namun ternyata, membeli mobil murah tak selamanya indah. Malah berpotensi untuk menyulitkan saat ingin upgrade ke kelas lebih atas.

Seperti dikatakan Direktur Pemasaran dan Purnajual PT Honda Prospect Motor (HPM) Jonfis Fandy. Hal itu mengacu dari penyusutan kendaraan yang sekitar 10 persen.


"Semua orang yang beli mobil, awalnya akan beli yang mobil kecil. Yang modalnya tidak besar. Dengan harapan nanti tua, mobilnya jadi besar. Upgrade terus. Padahal, mobil itu punya minimum harga misal saja dahulu paling murah itu mobil Rp 100 juta, sekarang rata-rata Rp 150 juta. Ke depan, bisa jadi naik menjadi Rp 200 juta," ungkapnya di Jepara, Jawa Tengah, Kamis (2/5/2019).

"Kalau beli mobil Rp 150 juta, nanti dijual jadi Rp 75 juta karena ada penyusutan. Nah Anda mau beli mobil ke depan paling murah Rp 200 juta, maka harus tambah berapa? Jadi akan sulit untuk upgrade dibanding mobil yang harganya di atas itu," lanjut Jonfis.

Asumsi tersebutlah yang jadi landasan bahwa tak selamanya mobil berbanderol murah memudahkan dalam kepemilikan kendaraan sampai 4-5 tahun ke depan.

"Dengan begitu efeknya untuk ugrade ke depan tidak punya kemampuan. Belum lagi bila resale value mobil tersebut jatuh," kata Jonfis lagi.


Dikesempatan sama, dirinya juga menjelaskan bahwa mobil-mobil murah khususnya yang dari China tak mempengaruhi Honda di Indonesia. Sebab, karakteristik pembelinya berbeda.

"Saya bisa katakan saat ini kami tidak apple-to-apple dengan mereka. Berdasarkan survei internal juga, mobil China tidak jadi pertimbangan orang beli mobil Honda. Namun irisan kadang ada," tutup Jonfis. (ruk/dry)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com