Jumat, 12 Apr 2019 11:45 WIB

Ragam Alasan Orang Ogah Beralih ke Mobil Matik

Rizki Pratama - detikOto
Transmisi otomatis. Foto: Grandyos Zafna Transmisi otomatis. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Secara teori memang mengendarai mobil matik terbukti lebih nyaman apalagi di tengah kota yang macet. Bagaimana tidak, kaki kiri tak perlu lagi menahan pedal kopling dan cukup menginjak pedal gas dan rem menggunakan kaki kanan saja.

Namun sampai saat ini masih banyak kenyataan konsumen mobil Indonesia enggan menikmati kemudahan tersebut. Rifat Sungkar yang memiliki sekolah safety driving Rifat Drive Labs itu mengetahui alasan mereka saat menanyakan mengapa tidak memilih mobil matik.



"Saya kan punya sekolah safety driving, saya sudah ngajar 300 ribu orang dalam 3 tahun. Saya tanya kenapa tidak mau pakai matik. Reason-nya saya tahu itu apa. Reason-nya adalah dia nggak biasa diam aja di mobil. Mereka nggak bisa kalau motoriknya diam saat jalan," ungkap Rifat melalui video yang diunggah melalui akun Rifat Drive Labs.

Padahal tidak semua mobil bertransmisi otomatis membosankan. Ada beberapa opsi tambahan mobil matik yang memiliki tiptronic dan pedal shifter. Dengan fitur tersebut sensasi mengendarai mobil manual tetap bisa dirasakan meskipun mobilnya bertransmisi matik.

"Kalau mereka pakai automatic transmission yang ada tiptronicnya, ada pedal shiftnya mereka kaget kenapa matic bisa jadi manual. Dan itu bisa dinikmati sama mereka," ujar Rifat.



Alasan lain yang menjadi mitos tentang mobil matik adalah banyak anggapan transmisi matik tidak memiliki engine brake. Tidak adanya engine brake ini akan menyulitkan dan berbahaya saat di turunan. Namun Rifat menegaskan setiap mobil matik pun memiliki engine brake, jadi pandangan seperti itu salah.

"Mobil matik nggak ada engine brake turunan bablas itu salah. Mobil matik ke atas itu bisa pilih gigi terbaik untuk putaran terendah supaya efisiensi bahan bakar bagus begitu turunan dia bisa pilih gigi terendah juga untuk bisa menahan laju mobil supaya kerja rem itu nggak panas," papar Rifat.

Meski demikian, Rifat sendiri tidak memaksakan pendapatnya kepada setiap orang. Ia mengatakan menerima perbedaan tapi akan tetap menyarankan yang terbaik.

"Saya menghargai perbedaan tapi saya juga ingin selalu menyarankan kebaikan dan sekarang jawaban terbaik Jakarta macet ada mobil matik kenapa tidak beli," pungkas Rifat. (rip/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com