ADVERTISEMENT
Minggu, 07 Apr 2019 15:28 WIB

Mobil China Masih Butuh Waktu

Dina Rayanti - detikOto
Mobil China DFSK Glory 580. Foto: Lamhot Aritonang Mobil China DFSK Glory 580. Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Sempat hilang dan datang lagi membuat citra akan mobil-mobil China buruk di mata masyarakat Indonesia. Mobil China sendiri di Indonesia bukanlah sesuatu yang baru di Tanah Air. Sebelum Wuling dan DFSK datang menggebrak dengan harga murahnya, jalanan Indonesia sempat diisi oleh Geely dan Chery.

Berbeda dengan Wuling dan DFSK, Geely dan Chery tak membangun pabrik di sini. Keduanya hanya berjualan dan juga menyediakan layanan purna jual tanpa mendirikan pabrik. Penjualannya pun lama kelamaan cenderung menurun. Hingga akhirnya kedua merek tersebut 'angkat kaki' dari sini.


Harga jual mobil China yang lebih murah terkadang sering diragukan. Keraguan tersebut datang dari kualitas mobil. Dengan harga murah, kebanyakan masyarakat Indonesia khawatir kalau kualitas suku cadangnya tidak tahan lama.

Butuh usah ekstra keras memang bagi produsen asal China itu meyakinkan mobilnya sekuat mobil-mobil Jepang yang selama in sudah terkenal dengan ketahanannya. Salah satu upaya yang dilakukan mobil China adalah memberikan garansi jangka panjang agar para konsumen tak khawatir.

"Kepercayaan customer itu ada dua hal yang pertama brand yang kedua layanan sama resale value. Tapi dengan jaringan dia bertambah banyak mereka juga kan membuat layanan aftersales menarik dengan warranty 7 tahun kemudian free maintenance dan free services itu yang hampir menyamai Jepang itu pilihan menarik buat customer," ucap Executive General Manager PT Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto saat berbincang dengan detikcom Kamis lalu.


Kepercayaan konsumen akan suatu produk tidak bisa dipaksakan. Konsumen harus mencoba ketahanan suatu produk hingga akhirnya bisa percaya. Dan itu harus dibuktikan oleh Wuling juga DFSK yang baru hadir di Tanah Air kurang dari dua tahun.

"Tapi balik lagi ada some customer percaya, some customer tetap consider brang-brand yang udah punya nama karena pengalaman. Yang menarik mereka masih ngelihat brand asalnya dari mana, siapa mitranya kalau mitranya dari negara teknologi tinggi maju, dia percaya," jelas Soerjo.

"Nah kesulitan brand-brand negara lain yang bukan dari negara maju kaya India walaupun dia punya kemampuan misalnya produksi steelnya itu juga dia nggak menjamin begitu masuk ke Indonesia kepercayaan orang terhadap brand itu pengaruh sekali," sambung Soerjo.

Tapi tak menutup kemungkinan jika suatu saat keadaan justru berbalik. Soerjo mencontohkan produsen ponsel asal China kini mulai bisa membuat konsumen Indonesia percaya meskipun harganya murah.


"Betul salah satunya komunikasi, tinggal tunggu waktunya untuk meyakinkan customernya kan nggak serta merta kaya handphone kan tinggal nunggu prosesnya aja," pungkas Soerjo. (dry/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com