Jumat, 26 Okt 2018 10:48 WIB

Keberatan dengan Ganjil Genap? Di Beijing Lebih Kejam, Lho!

Ridwan Arifin - detikOto
Ganjil-Genap. Foto: Lamhot Aritonang Ganjil-Genap. Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Di DKI Jakarta diberlakukan aturan pembatasan kendaraan dengan sistem ganjil-genap. Namun, mungkin masih banyak yang keberatan dengan aturan tersebut.

Meski begitu, penerapan sistem ganjil genap untuk membatasi kendaraan roda empat yang tengah dipakai Pemprov DKI Jakarta dinilai cukup efektif untuk sementara waktu. Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai, aturan ganjil genap di Beijing lebih kejam dan berhasil menekan volume kendaraan dengan cara tersebut.

"Kebijakan seperti ini kalau di Indonesia lebih toleran kalau saya lihat di Beijing itu lebih kejam, dan itu semuanya dimulai saat Olimpiade 2008. Karena apa, polusi udaranya tinggi, setelah diterapkan masyarakatnya malah minta," ungkapnya.



Dia memaparkan, pembatasan kendaraan di Beijing lebih ketat. Bukan pakai pelat ganjil genap, melainkan pakai angka. Misalnya, hari Senin yang boleh melintas adalah kendaraan dengan pelat angka 8 dan 2, Selasa ganjil 1 dan 9, Rabu 6 dan 4, Kamis 7 dan 3, Jumat 0 dan 5. Setiap 3 bulan akan dirotasi, sementara aturan tersebut tidak berlaku saat akhir pekan dan hari libur nasional.

Menurut Djoko, aturan tersebut bisa saja diberlakukan di Indonesia. Tapi kalau mau menerapkan kebijakan yang lebih ketat tersebut harus diiringi dengan kebijakan lain yang sifatnya Push Pull Policy, misalnya menyiapkan transportasi pengganti yang mumpuni.



"Tentunya di sana kebijakan lainnya juga sudah diterapkan, misalnya naik angkutan umumnya murah dan banyak, MRT-nya itu 10.000 km kita 1.200-an ya, dalam sehari bisa nembus 10 juta orang, naik kereta cuma 2 yuan atau 4 ribu, naik kereta 1 yuan atau seribu, parkirnya bisa 20 sampai 40 kali lipat ditekan sama dia," ungkap Djoko.

Ganjil genap yang diperpanjang hingga akhir tahun di wilayah Jakarta diharapkan agar pengendara beralih ke penggunaan transportasi publik. Seperti yang diuraikan, hasil studi Badan Litbang Perhubungan bahwa peningkatan laju pertumbuhan jalan (termasuk jalan tol) tidak sebanding dengan laju pertambahan kendaraan yang mencapai 11 persen per tahun.




Tonton juga 'Ini Jalur Crossing yang Bebas Ganjil-Genap':

[Gambas:Video 20detik]

(riar/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed