Selasa, 28 Agu 2018 12:58 WIB

Operator Bus Keluhkan Kebijakan Standar Biodiesel B20

Ruly Kurniawan - detikOto
Bus PO SAN Putra Sejahtera. Foto: PT. SAN Putra Sejahtera
Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartanto mengatakan bahan bakar minyak (BBM) biodiesel 20% atau B20 mulai diterapkan dalam waktu dekat. Menerapkan standar baru tersebut dikatakan akan menguntungkan Indonesia dalam berbagai pihak. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) di suatu kesempatan bahkan mengatakan Indonesia membutuhkan implementasi biodiesel B20.

Namun bagi operator bus, hal ini malah menjadi 'mimpi buruk'. Salah satu anggota Organda dari PO SAN Putra Sejahtera, Kurnia Lesani Adnan mengucapkan, penerapan B20 sangat bertolak belakang akan perkembangan teknologi otomotif saat ini khususnya di bus. Akibatnya, akan banyak masalah ketika diterapkan dalam waktu dekat.



"Saat ini armada saya menggunakan solar B10, dan bisa membuat performa mesin pada kendaraan bus mengalami problem yang cukup krusial. Akibatnya terjadi blocking pada filter atau penyaring BBM (solar) pada mesin bus. Ketika hal ini terjadi, risiko kecelakaan sangat tinggi ketika bus dalam posisi jalan menanjak dengan kecepatan tinggi," ungkap Sani berdasarkan siaran pers yang diterima detikOto di Jakarta, Selasa (28/8/2018).

"Jika kualitas solar tidak sesuai dengan kriteria mesin bakal membuat tenaga mesin menjadi drop/low compretion secara mendadak akibat filter BBM tersumbat (terjadi blocking karena gel)," tambahnya.


Dengan menggunakan solar B10, bus lebih sering mengganti filter BBM lebih cepat dari jadwal yang direkomendasikan oleh pabrikan (15.000 km). "Bisa dibayangkan jika kami sebagai operator lalai akan hal ini," keluh Sani.

Dari sisi teknis Biodiesel atau disebut Fatty Acid Methyl Ester (FAME) merupakan minyak solar campuran minyak sawit 20 persen dan solar minyak bumi 80 persen. Bahan baku pencampur biodiesel pun bisa dikatakan dapat diperoleh dari produk-produk pertanian, seperti minyak goreng.


Untuk proses pembuatan biodiesel, dengan mengurai molekul trigliserida menggunakan metanol atau etanol dan dibantu katalisator. Reaksi ini menghasilkan ester metil atau etil asam lemak yang sifat fisiknya mirip dengan minyak solar. Untuk mendapatkan campuran yang homogen antara FAME dengan minyak solar maka dilakukan di kilang.

"Masalahnya, apakah bisa dijamin campurannya bisa konsisten? Campuran FAME dengan solar dikhawatirkan tidak konsisten. Bisa saja nanti didaerah tertentu campurannya lebih banyak FAME di atas 20 persen," kata Sani. (ruk/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com