Selasa, 14 Agu 2018 17:37 WIB

Gaikindo: September Produsen Otomotif Harus Terapkan B20

Ruly Kurniawan - detikOto
Foto: Michael Agustinus Foto: Michael Agustinus
Jakarta - Sejalan dengan inisiasi Pemerintah untuk menghemat devisa negara, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyambut baik tentang perluasan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) biosolar 20 (B20) untuk kendaraan bermesin diesel non-PSO (public service obligation), termasuk kendaraan penumpang.

Meski belum ada kesepakatan bulat dari para anggotanya, mau tidak mau seluruh produsen otomotif roda empat Tanah Air harus mengikuti regulasi tersebut. Kebijakan itu akan berlaku pada 1 September 2018.

"Belum ada perkataan sepakat bulat, tetapi kami akan support semua. Semuanya diam tidak ada yang menentang. Tapi karena Pemerintah bilang 1 September itu berlaku B20, semua di Gaikindo dukung," kata Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi di kawasan ICE BSD, Tangerang, pekan kemarin.


"Pemerintah ingin menghemat devisa negara, kita harus dukung. Apalagi minyak kelapa sawit dari Indonesia itu sudah diakui di luar negeri sebagai Bio Fuel. Jadi kita tidak tergantung pada bahan bakar fosil dan polusi kendaraan bisa berkurang," tambahnya.

Soal kekhawatiran dalam menggunakan BBM B20 yang disebut bisa mempercepat usia pakai komponen, Nangoi menuturkan sebenarnya tidak masalah. Hanya saja, pihak produsen kendaraan mau tak mau harus menyesuaikan produk, dan mematuhi instruksi pemerintah.

"Yang namanya B20 kan mengandung kelapa sawit, dia ada soap effect-nya. Tapi kalau mobil baru yang tangkinya bersih itu tidak masalah sebenarnya. Hanya saja untuk mobil yang sudah tua, kan ada kerak-keraknya, inilah yang berbahaya. Maka mereka harus bersihkan dahulu," ungkap Nangoi.

Sejauh ini tercatat baru merek Toyota Indonesia dan Isuzu saja yang secara resmi menyatakan bahwa mobil penumpangnya yang bermesin diesel aman menggunakan B20. Tentu, hal tersebut setelah dilakukan serangkaian uji coba.


Di kesempatan berbeda, Menteri Koordiantor bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, ada banyak penghematan yang bisa dilakukan dengan adanya penerapan B20. Dalam hal meredam devisa negara, Indonesia bisa hemat sampai Rp 49 triliun (US$ 3,36 miliar).

Penghematan tersebut bisa didapat karena pemerintah bisa mengurangi impor BBM berkat adanya pemanfaatan bahan bakar nabati tadi.

"Realisasi ini mandatory baik untuk Public Service Obligation (PSO) maupun non-PSO. Semua sudah kami kerjakan, dan ini bisa mengurang impor crude oil seperti yang sudah disinggung sebelumnya," ujar Luhut di sela acara Shell Skenario Forum, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Ia menyebut, dengan asumsi harga minyak US$ 80 per barel estimasi dampak langsung terhadap penghematan devisa dengan penerapan B20 bisa mencapai US$ 3,36 miliar atau setara Rp 49 triliun.


Dirinya menambahkan, ada juga potensi penghematan hingga 78% terhadap kilang minyak Pertamina untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar. Dengan penerapan B20, RI bisa menghemat impor bbm hingga 42 juta barel.

Dampak lanjutannya, kata Luhut, ada peningkatan devisa mencapai US$ 9,36 miliar atau setara Rp 136,81 triliun, dengan asumsi kenaikan harga CPO sebesar US$ 200 per ton. (ruk/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed