Senin, 09 Apr 2018 14:41 WIB

Taman Berisi Mobil Antik Ada di Borobudur, Asyik Buat Selfie

Pertiwi - detikOto
Taman berisi mobil antik di Borobudur. Foto: Pertiwi Taman berisi mobil antik di Borobudur. Foto: Pertiwi
Magelang - Deretan mobil-mobil antik tergeletak begitu saja di tanah bengkok Kepala Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Bagi pecinta mobil antik, pemandangan tersebut dijamin akan membuat mereka geleng-geleng kepala.

Beberapa mobil yang tercatat memiliki harga ratusan juta dan diletakkan begitu saja di antaranya Impala buatan tahun 1964, Dodge tahun 1957, VW Safari, VW Kodok, hingga VW antik yang dulu difungsikan sebagai ambulans.



Pemilik mobil tersebut, Wiwit, rupanya tidak begitu saja meletakkan mobil-mobil itu di tanah lapang sebelah balai perekonomian desa (Balkondes) Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

"Ayah saya dan saya memiliki ide untuk membuat destinasi wisata berupa spot selfie berlatar belakang pemandangan alam dan mobil klasik. Kemudian kita namai wisata ini Junkyard Auto Park," ujar putra Wiwit, Galang Rezkidianto (21), saat ditemui detikOto, Senin (9/4/2018).

Galang menyebutkan, tidak hanya mobil antik yang dipajang utuh maupun pretelan. Tampak sepeda motor Vespa, bemo, hingga bak truk yang dipasang sedemikian rupa hingga menyerupai karya seni dan sangat cocok untuk berfoto.

"Total ada sekitar 14 mobil klasik yang ada di sini. Sebagian merupakan koleksi pribadi ayah saya, sebagian lagi beli," ungkap Galang.



Dia menuturkan, awal mula tercetus sebuah gagasan untuk membuat wisata Jungyard Auto Park itu adalah ketika Wiwit ingin menaikkan nilai tawar sebuah mobil rongsok. Baginya, rongsokan mobil bekas yang sudah tidak terpakai bukanlah sebuah sampah.

"Kami ingin menunjukkan bahwa rongsokan mobil ini tidak hanya merupakan sampah. Ini bisa jadi sebuah karya menarik dan dinikmati banyak orang," kata Galang.

Jadilah Wiwit dan Galang memutar otak kemudian memutuskan membuka destinasi wisata di sisi Timur Candi Borobudur berupa Junkyard Auto Park. Letaknya yang strategis berdekatan dengan cagar budaya warisan umat Buddha itu membuat Wiwit dan Galang optimistis, bahwa wisata itu akan dikunjungi banyak orang.

Keduanya pun menata mobil dan rongsokan lainnya agar berbeda. Ada yang dipotong, dipasang terbalik, dicat warna warni, dijadikan air mancur, dan lainnya.

Sejauh ini, pengelolaan wisata tersebut masih bagi hasil dengan Desa Wanurejo lantaran lahan seluas 2.000 meter persegi yang dipergunakan adalah bengkok kepala desa.

"Kami berkerja sama dengan sistem bagi hasil, yakni 50% pengelola, 40% kepala desa dan 10% BUMDes Wanurejo," urainya.

Sejak dibuka secara resmi pada 30 Maret 2018 lalu, jumlah wisatawan yang berkunjung sudah relatif banyak. Yakni 50-70 orang per hari.



"Harga tiket masuk per orang sebesar Rp 15 ribu. Pengunjung bisa berfoto sepuasnya tanpa dipungut biaya lainnya mulai pukul 08.00-18.00 WIB," kata Galang.

Adapun untuk parkir sepeda motor per orang Rp 2.000 dan mobil Rp 4.000. Parkir ini dikelola oleh warga Wanurejo.

Fasilitas sementara yang disediakan oleh pengelola di dalam Junkyard Auto Park antara lain taman bermain anak, toilet, dan cafe.

"Ke depan, bukan tidak mungkin, fasilitas akan kami tambah lagi. Termasuk penambahan wahana baru," terang Galang. (rgr/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed