Jumat, 09 Feb 2018 17:42 WIB

Jonan Sudah Tidak Sabar Lihat Mobil Listrik Diproduksi

Deny Prastyo Utomo - detikOto
Foto: Deny Prastyo Utomo Foto: Deny Prastyo Utomo
Surabaya - Menteri ESDM Ignasius Jonan mendorong proyek mobil listrik nasional ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya agar segera diproduksi secara massal dan dikomersialkan. Sebab kalau tidak pernah dicoba untuk dijual tidak akan tahu apa yang harus diperbaiki dan harus disempurnakan.

Hal ini disampaikan oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan seusai memberikan kuliah umum dengan topik "Energi Berkeadilan" serta menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman ITS & Kementerian ESDM RI (Badan Penelitian dan Pengembangan & Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia) di Gedung Rektorat ITS, Jalan Raya ITS Keputih Sukolilo, Jumat (9/2/2018).

Menurut Jonan, proyek mobil listrik ini sudah terlalu lama. "Ini sudah kelamaan, saya tidak terlambat tapi ya kelamaan harus segera dibangun. Tapi kalau mobil masih terlalu besar. Tapi untuk motor listrik masih bisalah," ungkapnya.

Untuk itu dalam kerjasama dengan Balitbang Kementrian ESDM dengan ITS Surabaya akan segara mencarikan solusi untuk melakukan pengembangan untuk mobil listrik nasional ke depan. "Kerja sama ini nanti dicarikan pabrikan atau industri yang mau membuat ini menjadi komersial," ungkapnya.

Dalam penadatangan MoU antara ITS Surabaya dengan Balitbang Kementrian ESDM, selain pengembang mobil listrik juga untuk pengembangan teknologi smelter.

Dalam proyek besar mobil listrik sendiri. ITS Surabaya sudah mampu membuat Lowo Ireng Super Car dan Ezzy ITS. Sedangkan untuk motor listriknya ITS Surabaya juga sudah membuat Gesits. "Rencananya untuk mobil listrik akan diluncurkan 17 Agustus tahun ini,"ujarnya.

Sementara itu. Wakil Rektor IV bidang kerjasama hub internasional dan kealumnian Ketut Buda Artana menyampaikan dalam perpanjangan kerjasama dengan Balitbang Kementrian ESDM ada tiga fokus yang akan dikerjakan dalam waktu dekat ini.

"Yang pertama tentang teknologi smelter yang dimiliki oleh ITS, kedua tentang energi baru terbarukan yang berbasis laut khususnya gelombang. Kemudian untuk kendaraan listrik. Jadi tiga itu yang akan segera dieksekusi antara ITS dengan Balitbang Kementerian ESDM," ungkapnya.

Sedangkan untuk mobil listrik sendiri Ketut Buda Artana menyampaikan jika memang teknologi riset ITS ini digunakan maka perlu dukungan pemerintah. Karena untuk komersialisasi ITS bukan pada porsinya untuk itu.

"Bagi kami di ITS, tugas kami melakukan pengembangan riset, untuk komersialisasi perlu dukungan pemerintah. Dengan khusus BUMN untuk memproduksi secara massal karena tidak mungkin karena tidak mungkin kita yang melakukannya untuk core bisnisnya," ujarnya.

Ia menambahkan jika riset dan teknologi mobil listrik nasional ITS sudah sangat luar biasa karena diproduksi sendiri.

"Teknologi mobil listrik nasional itu diproduksi sendiri oleh teman-teman ITS sendiri, kecuali baterai. Tantangan ke depan untuk industri mobil listrik ke depan ada di baterai, kalau controller saya pikir teman-teman sudah sangat luar biasa," ujarnya.


Sedangkan untuk teknologi smelter sendiri ITS Surabaya sudah punya protipe segala industri untuk mini smelter. Dengan kapasitas yang kecil tepat untuk sumber-sumber mineral dengan kapasitas tidak terlalu besar.

"Sebenar smelter punya ITS ini sudah dioperasinalkan di Sulawesi. Mungkin sudah dua tahun lalu beroperasional," ungkapnya.

(iwd/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed