Dunia Otomotif Jepang Dilanda Keresahan

Dunia Otomotif Jepang Dilanda Keresahan

Khairul Imam Ghozali - detikOto
Selasa, 12 Des 2017 10:16 WIB
Dunia Otomotif Jepang Dilanda Keresahan
Ilustrasi Pabrik Pipa Baja untuk Otomotif. Foto: Rachman Haryanto
Tokyo - Dunia industri otomotif Jepang sedang diselimuti keresahan. Terutama pada sektor manufaktur. Sebab banyak kecurangan yang dilakukan oleh pihak internal. Untuk itu hampir setengah dari seluruh perusahaan di Jepang sedang berbenah untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan.

Diberitakan Reuters, pada paruh kedua tahun ini saja, Kobe Stell, Mitsubishi Materials Corp, dan Toray Industries, semua pemasok utama produk ke produsen global telah mengakui adanya pemalsuan data.

Nissan dan Subaru juga mengatakan selama ini mereka menggunakan pekerja yang tidak bersertifikat selama bertahun-tahun untuk menandatangani inspeksi akhir yang diperlukan untuk mobil yang dijual di pasar Jepang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Survei dari Reuters yang dilakukan sejak 21 November hingga 4 Desember menunjukkan bahwa sembilan dari 10 perusahaan Jepang mengatakan mereka khawatir dengan hal tersebut yang akan berdampak pada reputasi Jepang atas keunggulan di bidang manufaktur mereka.

"Kepercayaan terhadap reputasi Jepang yang punya kualitas tinggi telah terguncang merupakan masalah besar, dan butuh waktu lama untuk memulihkannya," ujar seorang manajer dari perusahaan konstruksi dalam survei tersebut.

Tanggapan atas skandal tersebut membuat 44 persen perusahaan Jepang secara keseluruhan, dan 48 persen perusahaan manufaktur akan segera melakukan perbaikan kualitas. Namun head of Japan equity fund management at Nikko Asset Management, Jiro Nakano, mengatakan ada beberapa aspek negatif dari budaya bisnis Jepang yang juga harus disoroti.

"Pengawasan harus diperluas sampai ke lantai pabrik, selanjutnya memperkuat merek Jepang, terutama yang berkaitan dengan teknologi dan manufaktur tradisional," katanya.

Di sisi lain, para ahli juga mencatat, kontrak sementara yang diajukan produsen Jepang untuk karyawan telah menurunkan standar dan meningkatkan kemungkinan kesalahan dan kecelakaan.

"Mengurangi biaya personel di tingkat pabrik mencapai batasnya. Para eksekutif belum menyadari hal ini," ucap seorang manajer yang ikut dalam survei tersebut.

Meski demikian, para perusahaan Jepang bersikeras bahwa kesalahan mereka tidak akan membahayakan keamanan produk yang mereka ciptakan. Survei yang dilakukan Reuters mencakup 547 perusahaan besar dan menengah yang menjawab namun enggan menyebut nama, dan 240 perusahaan yang menjawab pertanyaan tentang skandal data terakhir. (khi/rgr)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads