Berita Otomotif Terbaru Dalam Dan Luar Negeri
Rabu 09 Agustus 2017, 14:41 WIB

Astra: Kalau Mau Ada Mobil Listrik Harus Berjenjang, Hybrid Dulu

Sylke Febrina Laucereno , Danang Sugianto - detikOto
Astra: Kalau Mau Ada Mobil Listrik Harus Berjenjang, Hybrid Dulu Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - Pemerintah Indonesia tengah berniat mengembangkan mobil listrik di Indonesia. Namun untuk menuju ke sana, tidak bisa langsung, harus melewati tahap peralihan dulu, misalnya hybrid terlebih dulu.

Demikian pandangan perusahaan produsen kendaraan terbesar di Indonesia PT Astra Internasional Tbk (ASII). Menurut Presiden Direktur Astra Internasional, Prijono Sugiarto, perlu ada tahapan peralihan ke mobil hybrid sebelum sepenuhnya berenergi listrik.

"Akan ada jenjang. Jadi istilahnya kalau mau ke Bogor ya lewat Jagorawi, ingin listrik tulen ya hybrid dulu," tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Mobil hybrid sendiri merupakan mobil dengan dua jenis teknologi untuk sumber tenaganya. Sehingga untuk memacu mesin kendaraan bsia menggunakan bensin dan baterai.

Menurut Prijono, Kementerian ESDM juga seharusnya melakukan komunikasi terlebih dahulu ke pihak asosiasi dalam hal ini Gaikindo. Hal itu agar pemerintah bisa mendapatkan masukan sebelum mengambil keputusan.

Selain itu, agar rencana tersebut juga bisa terealisasikan pemerintah juga harus memberikan insentif. Namun dia enggan menyebutkan insentif apa yang dibutuhkan oleh para pelaku industri otomotif.

"Jadi tergantung sejauh mana dialokasikan, kalau yang namanya semua lokal mungkin PPnBM-nya. Tapi enggak tahu yang mana dibutuhkan," ujarnya.

Sebenarnya mana yang lebih irit di kantong, mobil BBM atau listrik? Product Planning Manager BMW Indonesia Tami Notohutomo menjelaskan, tahun lalu, BMW melakukan uji terhadap mobil listrik produksinya dengan mobil konvensional yang menggunakan BBM. Dua mobil itu diuji untuk menempuh jarak yang sama yakni 200 km.

Hasilnya, secara biaya bahan bakar, mobil listrik terbukti lebih murah ketimbang mobil konvensional dengan BBM. Untuk menempuh jarak 200 km, mobil listrik membutuhkan daya sekitar 27,7 kilowatt dengan asumsi harga listrik tahun lalu Rp 1.400 per kwh.

"Jadi 27,7 kilowatt dikali Rp 1400 itu sekitar Rp 38,780 atau dibulatkan Rp 40.000," ujarnya di Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Sementara, pada mobil konvensional, 1 liter BBM sepsifikasi Rp 92 bisa menempuh jarak 12 km. Artinya, untuk menempuh 200 km, diperlukan BBM sebanyak 16,6 liter. Dengan asumsi harga BBM seharga Rp 9.250, maka biaya bahan bakarnya mencapai Rp 154.166.

(ang/ddn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed