Ford seperti dilansir Reuters, Selasa (31/1/2017) dalam pernyataannya mengatakan perusahaannya tidak mendukung larangan tersebut. "Kami tidak mendukung kebijakan ini atau kebijakan lain yang tidak sesuai dengan nilai perusahaan," demikian isi pernyataan yang ditulis oleh Executive Chairman Ford Bill Ford dan CEO Ford Mark Fields tersebut.
Ford bermarkas di Dearborn, Michigan, yang merupakan salah satu negara bagian dengan populasi Arab-Amerika terbesar di Amerika Serikat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CEO Ford sebelumnya pernah bertemu 2 kali dengan Trump untuk membahas isu ekonomi pekan lalu. Ford diancam Trump karena bermaksud memproduksi mobil di Meksiko, yang akhirnya dibatalkan oleh Ford. Field usai bertemu dengan Trump hanya berkata pendek soal kebijakan kontroversial Trump. "Ford adalah perusahaan global," ujarnya.
Keputusan kontroversial mengenai pengungsi dan para pengunjung dari negara-negara mayoritas muslim itu diteken Trump Jumat 27 Januari lalu. Perintah ini membatasi masuknya pengunjung dari Suriah dan enam negara mayoritas muslim lainnya selama 90 hari.
Menurut Gedung Putih ketujuh negara tersebut adalah Suriah, Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan dan Yaman. Disebutkan bahwa selama setidaknya 90 hari ini, pemerintah AS akan membatasi pemberian visa bagi warga dari Suriah dan enam negara tersebut.
"Saya sedang mengambil langkah-langkah pemeriksaan baru untuk membuat para teroris Islam radikal menjauh dari AS. Saya tidak menginginkan mereka di sini," kata Trump di Pentagon.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Habis Ngamuk Ditegur Jangan Ngerokok, Pemotor PCX Kini Minta Diampuni
Viral Lexus Berpelat RI 25 Potong Antrean di Gerbang Tol
Harga Mobil di Indonesia Terkesan Mahal, Padahal...