Demi Keamanan, Bodi Mobil Depan dan Belakang Sengaja Dibuat Mudah Hancur

Demi Keamanan, Bodi Mobil Depan dan Belakang Sengaja Dibuat Mudah Hancur

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Senin, 05 Des 2016 12:29 WIB
Demi Keamanan, Bodi Mobil Depan dan Belakang Sengaja Dibuat Mudah Hancur
Foto: dok detikOto
Bandung - Mobil-mobil saat ini dibuat untuk melindungi penghuninya dari risiko cedera maupun risiko kematian akibat kecelakaan lalu lintas. Salah satu usaha untuk menekan risiko itu adalah penggunaan bodi mobil yang mudah hancur di bagian depan dan belakangnya.

Bagian depan dan belakang mobil itu yang disebut sebagai crumple zone. Ketika terjadi benturan atau tabrkan, zona itu akan rusak terlebih dahulu untuk menyerap benturan agar energi benturan tersebut tidak mengalir ke penumpang.

Mobil yang memiliki crumple zone ini biasanya menggunakan sasis monokok. Sasis monokok sering digunakan untuk kendaraan penumpang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk monocoque bagian depan dibikin crumple zone. Crumple zone adalah bagian yang gampang hancur ketika terjadi tabrakan untuk menyerap energi tabrakan," kata Trainer Nissan College Nissan Motor Indonesia, Sugihendi.

Sayangnya, kata Sugihendi, banyak yang salah kaprah bahwa mobil yang gampang hancur itu memiliki kualitas kurang bagus. Padahal, alasannya adalah untuk keselamatan.

"Banyak yang salah kaprah kalau bodi monocoque itu ketika terjadi tabrakan gampang hancur bodinya. Padahal di situ safety-nya. Memang ada crumple zone. Bahkan kap mesin dibuat sangat lemah, bukan berarti gampang rusak. Misalnya ketika menyenggol pejalan kaki, pejalan kaki jatuh terus bagian kap mesin kuat, yang dikorbankan pasti pejalan kakinya. Kenapa kita bikin lemah, ketika terjadi benturan, mobil penyok itu untuk menyerap benturan. Jadi pejalan kakinya itu enggak terluka parah. Tapi disalahartikan. Dibilang bodinya enggak kuat, bodinya tipis segala macam," ujar Sugihendi.

Justru, kalau bodi mobil dibuat sangat kuat, yang dikorbankan adalah keselamatan penghuni mobil atau pejalan kaki yang tertabrak itu. Sebab, tidak ada penyerap energi benturan.

"Kalau bicara kokoh, kalau tabrakan kan ada energi yang terbuang. Ketika tabrakan, tidak ada (bagian mobil) yang rusak (yang menyerap energi benturan), energi benturan larinya ke penumpang, penumpang yang jadi korban. Karena ketika terjadi tabrakan, energinya dimentalin sama ke kokohnya, tapi di dalamnya penumpang yang tewas. Analoginya sasis kan kuat, kalau kuat otomatis dia lebih tahan terhadap benturan. Tapi saat terjadi benturan, otomatis dia akan cari yang lebih lemah, yaitu penumpang," kata Sugihendi. (rgr/lth)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads