Museum yang beralamat di Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah, Banda Aceh, ini sudah ada sekitar 100 tahun lebih sejam zaman Belanda. Namun baru diresmikan pada tahun 1968.
"Koleksi museum paling penting Rumah Aceh (Rumoh Aceh), karena cikal bakal berdirinya Museum Aceh ini. Rumah Aceh dibangun Belanda tahun 1915 bukan untuk tempat tinggal tapi untuk stan pameran di Semarang 1914. 1915 dibawa ke Aceh untuk dijadikan museum tapi ditempatkan di Blang Padang, dan tahun 1968 baru dipindahkan di sini," ujar seorang pemandu Museum Aceh, Muchlis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau isinya jenis koleksinya ada macam-macam. Menurut bahasa permuseuman ada endografis itu yang biasa dipakai masyarakat pada umumnya, seperti kendi, alat masak, tempat tidur tempat lumbuk padi. Ada yang historika foto-foto sejarah, arkeologika batu-batu nisan kuburan, kemudian ada juga mata uang numismatika, dan filologi kitab-kitab zaman dahulu tulis tangan," ujar Muchlis.
Museum Aceh ini umumnya ramai pada hari-hari libur. Dan untuk tarif juga berbeda-beda.
"Ramai pas weekend, musim haji musim liburan anak sekolah. Kalau tarif untuk orang asing (luar negeri) Rp 5 ribu, untuk domestik dewasa Rp 3 ribu, kelompok Rp 2 ribu, anak-anak seribu," tutur Muchlis.
Selain dijadikan museum, museum Aceh juga bisa menjadi tempat pameran. "Buat pameran temporer temanya beda-beda, waktu pameran hanya seminggu," tambah Muchlis.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Viral Lexus Berpelat RI 25 Potong Antrean di Gerbang Tol
Kursi Depan JakLingko untuk Prioritas, Tak Semua Orang Boleh Duduk
Viral Pemotor Maksa Lawan Arah, Nggak Dikasih Lewat Malah Ngamuk!