Mobil Ramah Lingkungan Diwujudkan Bertahap dan Disesuaikan Daya Beli

Mobil Ramah Lingkungan Diwujudkan Bertahap dan Disesuaikan Daya Beli

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Senin, 22 Agu 2016 14:26 WIB
Mobil Ramah Lingkungan Diwujudkan Bertahap dan Disesuaikan Daya Beli
Mobil LCGC. Foto: detikOto
Tangerang - Produsen otomotif di berbagai negara berlomba menghadirkan kendaraan ramah lingkungan. Mulai dari kendaraan hybrid, listrik sepenuhnya hingga kendaraan bertenaga hidrogen sudah mulai digunakan di beberapa negara.

Namun, Indonesia saat ini masih jarang yang menggunakan teknologi mobil ramah lingkungan itu. Menurut Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan, perwujudan kendaraan ramah lingkungan dilakukan bertahap dan disesuaikan dengan daya beli masyarakatnya.

"Green car tidak harus mobil hidrogen. Green car itu merupakan suatu evolusi. Mulai dari yang hemat energi dulu, disesuaikan dengan terknologi yang ada dan disesuaikan dengan kemampuan daya beli masyarakatnya," kata Putu saat ditemui di arena GIIAS 2016 di BSD, Tangerang akhir pekan lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang terpenting, lanjut Putu, ada konsistensi untuk mewujudkan kendaraan ramah lingkungan. Kendaraan ramah lingkungan dimulai dari pembatasan konsumsi bahan bakar.

"Mulai dari fuel consumption dengan perbandingan misalnya 1:20, kita tingkatkan dari waktu ke waktu, satu liter menjadi 25 kilometer misalnya, terus mungkin sampai 30 kilometer. Nah pada saat itu, akan terjadi perubahan teknologi. Mungkin akan masuk kepada kendaraan mungkin gas, atau alternatif bahan bakar lain. Kita belum tahu karena perkembangan teknologi selalu mengikuti kemampuan daya beli konsumennya. Kita tidak tahu, mungkin ke depan akan masuk mobil hidrogen atau sebagainya," kata Putu.

Sebagai contoh, di negara-negara maju, masyarakatnya bisa membeli kendaraan dengam harga berapa pun. Makanya, di negara maju, mobil listrik dan hidrogen laku.

"Kalau di negara-negara maju, mereka bisa beli at any cost. Misalnya sekarang ada mobil hidrogen atau listrik harganya berapa pun dibeli. Kalau kita kan harga segitu siapa yang mau beli," ujar Putu.

Saat ini, di Indonesia ada program Low Cost and Green Car (LCGC) atau disebut sebagai kendaraan bermotor hemat energi dan harga terjangkau yang mengharuskan konsumsi bahan bakar minimal 20 km/liter. Nantinya dari program LCGC akan beralih ke program Low Carbon Emmision (LCE) atau mobil dengan emisi karbon rendah.

"Dari situ (LCGC), secara perlahan kita akan jadikan program LCE yang karbonnya rendah. LCE kita jangan lihat dia hybrid atau listrik. Yang penting dalam waktu sekian tahun, dia akan menurunkan emisi. Bisa macam-macam bahan bakarnya," ujar Putu.

Yang penting, pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menekan emisi. Pada 2030, Indonesia akan menurunkan emisi sampai 29 persen.

"Kalau pemerintah, kita mengikuti kesepakatan internasional di mana Indonesia komit, tahun 2030 kita akan mennurunkan emisi sampai 29 persen. Ini tidak hanya dari sisi otomotif, dari industri juga, dari yang lain-lain," sebut Putu.




(rgr/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads