Tak Lagi Pakai Hidrogen, Nissan Kembangkan Mobil Etanol

Tak Lagi Pakai Hidrogen, Nissan Kembangkan Mobil Etanol

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Kamis, 16 Jun 2016 09:48 WIB
Tak Lagi Pakai Hidrogen, Nissan Kembangkan Mobil Etanol
Ilustrasi mobil listrik Nissan LEAF. (Foto: REUTERS/Mark Blinch)
Tokyo - Saat ini, teknologi mobil yang dianggap paling ramah lingkungan adalah mobil hidrogen yang hanya mengeluarkan uap air dan panas dari knalpotnya. Namun, Nissan punya pandangan lain. Pabrikan tersebut menganggap mobil bertenaga etanol lebih murah, lebih aman dan lebih ramah. Secara prinsip mobil etanol ini berbeda dengan bahan bakar bioetanol yang kita kenal. Nissan menggunakan etanol untuk menghasilkan hidrogen.

Seperti diberitakan Automotive News, Kamis (16/6/2016), teknologi ini dijuluki sel bahan bakar e-bio. Nissan menilai, mobil bahan bakar hidrogen memerlukan infrastruktur yang kini masih kurang. Sedangkan sistem Nissan yang menggunakan bio-etanol berasal dari tanaman terbarukan seperti jagung atau tebu, dan infrastruktur pengisian bahan bakar sebagian besar sudah ada.

"Kami tidak membutuhkan infrastruktur hidrogen. Ini adalah keuntungan terbesar, bersama dengan keamanan yang lebih baik," klaim Wakil Presiden Eksekutif Nissan, Hideyuki Sakamoto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teknologi sel bahan bakar e-bio ini juga diklaim lebih murah dibanding sistem hidrogen tradisional. Sebab, mobil etanol itu tidak memerlukan tangki penyimpanan serat karbon yang mahal untuk menampung hidrogen bertekanan atau logam mulia seperti platinum sebagai katalis untuk penggerak listrik.

Untuk diketahui, teknologi mobil hidrogen yang kini sudah diterapkan oleh Toyota dengan model Mirai dan Honda dengan Clarity membutuhkan hidrogen untuk menghasilkan listrik. Kelebihan energi listrik disimpan dalam baterai onboard.

Pada mobil hidrogen tradisional, hidrogen bertekanan diisi langsung ke mobil dari stasiun pengisian bahan bakar hidrogen. Sementara pada teknologi Nissan yang menggunakan etanol ini justru bisa menghasilkan hidrogen dalam mobil.

Hidrogen itu dihasilkan melalui langkah tambahan yang ditangani oleh komponen yang disebut 'reformer'. Reformer itu mengubah etanol dalam tangki bahan bakar menjadi hidrogen yang kemudian dimasukkan ke tempat penyimpanan bahan bakar.

Meski mengembangkan teknologi baru, Nissan mengatakan belum menyerah pada pengembangan sistem hidrogen tradisional. Nissan akan terus mengembangkan teknologi ramah lingkungan secara paralel dengan mitranya Daimler AG (induk perusahaan Mercedes-Benz) dan Ford Motor Co. (rgr/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads