Sebaliknya, seperti diberitakan Automotive News, Senin (28/3/2016), perusahaan teknologi itu harus dirangkul.
"Ada banyak pembicaraan tentang gangguan, tentang pesaing baru yang menjanjikan pendekatan baru untuk mobil. Banyak dari kegelisahan ini telah dihasilkan dari munculnya teknologi baru dan apa yang disebut layanan mobilitas," kata Ghosn.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak berpikir kami akan menuju ke sana," kata Ghosn menyinggung kemungkinan Google atau Apple sebagai pesaing baru di dunia otomotif.
Ghosn meyakinkan, perusahaan-perusahaan teknologi itu saat ini sudah cukup kaya untuk membeli merek mobil jika mereka memilih memasuki industri otomotif. "Mereka sudah bisa melakukannya," kata dia.
Sebaliknya, perusahaan teknologi itu mungkin akan memilih menjadi pemasok teknologi canggih dan solusi untuk pabrikan otomotif yang sudah ada
"Tiga kekuatan (elektrifikasi, teknoloi otonom dan konektivitas) akan mengubah industri kita dalam cara kita baru mulai membayangkan. Namun, bukannya takut gangguan, saya percaya industri kita benar-benar tidak punya pilihan selain menerimanya. Saya harap industri otomotif global melihat lebih banyak perubahan dalam lima tahun ke depan," ujarnya.
Bukannya takut dengan perusahaan teknologi, tapi Ghosn melihat kompetisi baru ini sebagai persaingan sehat bagi industri otomotif ke depan. "Kami banyak belajar dari mereka dan mereka harus banyak belajar dari kami," ucapnya. (rgr/lth)












































Komentar Terbanyak
Biar Dapet Rp 10 Juta/Bulan, Ojol Harus Ambil Berapa Orderan?
Permintaan Maaf Pemobil yang Konvoi Zig-zag di Tol Becakayu
Perpanjang STNK Tahunan dan 5 Tahunan, Duitnya Buat Apa?