Senior Marketing Manager PT Mazda Motor Indonesia, Astrid Ariani Wijaya menyebut, berkendara adalah kesenangan bagi konsumen Mazda. Maka dari itu, Astrid yang mengutip perkataan CEO Mazda Motor Corporation, Masamichi Kogai saat di Tokyo Motor Show 2015 lalu mengatakan, Mazda belum tertarik mengembangkan mobil otonom.
"Berkendara bukan jadi masalah kewajiban, tapi ini lebih ke passion. Sama halnya waktu di Tokyo Motor Show Kogai-san (CEO Mazda, Masamichi Kogai) pernah bilang, Mazda enggak pengin bikin autonomous vehicle. Karena di Mazda passion adalah ketika mengemudi. Dan mobil otonom berarti Anda tidak mengendarai. Jadi kalau kita bikin mobil otonom, kita kehilangan passion," ucap Astrid di sela acara media test drive di Bandung, Jawa Barat, Jumat (18/3/2016) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"SKYACTIV itu manfaatnya bukan cuma fuel efficiency, agility, performa berkendara, terus pada saat duduk di mobil nggak merasa capek ketika berkendara jarak jauh itu juga makna SKYACTIV. Karena SKYACTIV enggak cuma mesin, dia ada sasis, bodi, transmisi, mesin. Empat aspek itu memengaruhi output yang kita rasakan," jelas Astrid.
Bahkan, Astrid menantang untuk merasakan duduk di jok sopir mobil-mobil seperti Mazda2, Mazda6 dan CX-5. Dia yakin, pengemudi tak akan lelah mengendari mobil-mobil Mazda meski dalam perjalanan jauh.
"Rasain deh ketika kita duduk di Mazda2, Mazda6, dan CX-5. Pasti posisi badan dari mulai kaki, leher, bahu itu nyaman. Karena dari segimanufacturing mereka mempelajari postur tubuh manusia, bagaimana harus menggeser berapa milimeter pedal gas supaya kakinya nyaman,"ucapnya.












































Komentar Terbanyak
Biaya Tes Psikologi SIM Online Naik, Sekarang Jadi Segini
Baru Jual 1 Mobil, Polytron Sudah Ungguli Merek Jepang-China Ini di Indonesia
Akhir Cerita Patwal Senggol Mobil Warga saat Lagi Ngawal Range Rover Pelat Dinas