Ini Strategi Hyundai Hadapi Jepang di Pasar Mobil Indonesia

Ini Strategi Hyundai Hadapi Jepang di Pasar Mobil Indonesia

Niken Purnamasari - detikOto
Kamis, 18 Feb 2016 17:36 WIB
Ini Strategi Hyundai Hadapi Jepang di Pasar Mobil Indonesia
Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - Industri otomotif di Indonesia dikuasai oleh produsen asal Jepang. Apa strategi produsen Korea Selatan, Hyundai menghadapi kompetisi tersebut?

Bagi Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia, Mukiat Sutikno, persaingan dengan produsen mobil asal Jepang terbilang relatif untuk kesulitannya. Masyarakat Indonesia dinilai Mukiat kini memiliki pengetahuan dan informasi yang detail untuk memilih produk.

"Sulit itu kembali relatif ya. Konsumen Indonesia sekarang ini jauh lebih mengerti tentang mobil. Apalagi dengan banyaknya informasi dari media. Konsumen yang tadinya tidak suka otomotif pun lebih educates dari segi otomotif knowledgenya," kata Mukiat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai salah satu strategi, Hyundai Mobil Indonesia memilih untuk bersaing dalam harga jual dengan produsen mobil lain yang ada di Indonesia.

"Jadi yang paling penting untuk kita saat ini bermain di harga. Kenaikan harga dolar itu hampir 44 persen dari 2013 hingga 2015. Efeknya perusahaan tersebut harus mencari cara," lanjutnya.

Selain bersaing dengan harga, Hyundai juga melakukan strategi dengan mengeluarkan empat produk baru pada tahun ini. Empat produk baru yang akan diluncurkan pada tahun ini yaitu 2 model facelift atau penyegaran dan 2 model baru.

"Kami mempersiapkan 4 produk baru. 2 produk baru dan 2 facelift. Santa Fe adalah produk pertama yang kita luncurkan tahun ini. Model lainnya akan kita luncurkan masing-masing di IIMS dan GIIAS. Karena waktunya kan sekarang juga berbeda," terang Mukiat.

Bocoran segmen 2 model baru yang akan diluncurkan tahun ini dibeberkan Deputi Direktur Pemasaran PT Hyundai Mobil Indonesia, Hendrik Wiradjaja. Ia menyebutkan segmen citycar dan SUV bakal menjadi model yang akan dikeluarkan.

"Model baru SUV dan Citycar. 2 model ini sudah diluncurkan global. Mudah-mudahan dolar bagus biar kita bisa launching. Kalau terlalu tinggi (harga) ga bisa bersaing lebih baik ditunda," ungkap Hendrik.

"Setting harga jadi problemnya. Kalau kondisi (ekonomi) baik kita launching," tandasnya.

(nkn/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads