Sejatinya, ada dua teori yang menggambarkan berkendara secara aman yaitu defensive driving dan safety driving. Mungkin Anda sering mendengar istilah safety driving. Tapi sebenarnya, menerapkan safety driving saja belum cukup.
Adriyanto Wiyono dari Indonesia Defensive Driving Center menjelaskan perbedaan defensive driving dan sefaty driving. Menurutnya, defensive driving lebih bersifat bertanggung jawab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia melanjutkan, defensive driving merupakan pendekatan intelektual tentang bagaimana cara mengemudi dengan aman, benar, efisien dan bertanggung jawab. "Jadi defensive driving lebih kepada perilaku," ujarnya.
Sementara safety driving adalah berkendara dengan ketrampilan dan pengalaman berdasarkan standar keselamatan dan cara berkendara yang aman, selamat dan benar, ditambah dengan sikap mental positif dan kewaspadaan secara terus menerus. "Nah kalau safety driving lebih kepada keterampilan seseorang," jelas Riyan.
"Ilustasinya gini, katakan di sebuah tikungan L ke kiri, ada kendaraan di depan dan kita akan mendahului dia. Kemudian dilihat kayaknya dengan perkiraan skill aman nih. Tapi efeknya orang itu kaget. Itu safety driving, tapi tidak defensive," kata Riyan.
Intinya, Riyan menyimpulkan, defensive driving adalah sikap berkendara yang menjamin diri sendiri dan orang lain aman. "Defensive prinsipnya saya dan orang lain aman," ucap Riyan.
"Sejago apa pun berkendara, bukan berarti Anda mampu mencegah terjadinya kecelakaan, contoh Simoncelli (Marco Simoncelli, pebalap MotoGP yang tewas di sirkuit Sepang 2011) dan Ayrton Senna (pebalap Formula 1 asal Brasil yang tewas di Grand Prix San Marino 1994 lalu)," lanjut Riyan.
(rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
Habis Ngamuk Ditegur Jangan Ngerokok, Pemotor PCX Kini Minta Diampuni
Harga Mobil di Indonesia Terkesan Mahal, Padahal...
Sopir JakLingko di Jaktim Bikin Resah, Penumpang Dihina 'Monyet'