Alasannya, selain secara fisik belum memadai, anak-anak juga dianggap tidak bisa mengontrol emosi di jalanan. Padahal, kontrol emosi sangat penting saat berkendara agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.
Menanggapi masalah itu, GM Corporate Planning & Public Relation PT Toyota-Astra Motor (TAM) Widyawati Soedigdo mengatakan, secara kematangan usia anak-anak di bawah umur belum bisa mengendalikan emosi. Karena berkendara tidak hanya butuh skill, tapi juga pengendalian emosi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Widyawati melanjutkan, peran orangtua sangat berpengaruh. Makanya, dia menyarankan agar orangtua tidak mengizinkan anak-anaknya menggunakan kendaraan bermotor sendiri.
"Lebih ke faktor orangtuanya. Dia harus strict tidak memberikan fasilitas sebelum waktunya," saran Widyawati.
Untuk edukasi, Toyota masih mengandalkan program Drive Your Live. Menurut Widyawati, program itu mengedukasi kepada orang-orang yang sudah cukup umur tentang bagaimana berkendara aman, nyaman dan mengendalikan skill.
"Karena mereka yang punya SIM saja masih banyak yang tidak bisa mengendalikan emosinya," komentarnya.
Saat ditanya apakah ada program yang mengedukasi anak-anak, Widyawati mengatakan, nantinya TAM juga akan ke arah itu. Namun sekarang, TAM masih fokus untuk mengedukasi orang-orang yang sudah cukup umur.
"Step by step. Kita selesaikan dulu yang captive market. Bukan ngajarin anak-anak skill mengemudi. Lebih mengedukasi seperti peraturan lalu lintas," sebutnya.
(rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
Heboh Avanza-Xpander Cs Bakal Dilarang Isi Pertalite, Pertamina Bilang Begini
Jawaban Pindad soal Prabowo Minta Desain Mobil Khusus Presiden Sapa Rakyat
BYD Luncurkan Denza N9 Flash Charge: Jarak Tempuh 1.520 Km, Ngecas Cuma 9 Menit