Pabrikan ban asal Jepang, Bridgestone pun mengakui terkena dampak meroketnya nilai dolar terhadap rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 13.000 per dolar Amerika. Bahkan dikatakan, kurs dolar itu mempengaruhi ongkos produksi ban Bridgestone di Bekasi dan Karawang, Jawa Barat.
"Rupiah melemah cukup menyebabkan masalah. Memang melemahnya nilai rupiah menyebabkan ongkos produksi meningkat," kata Sales and Marketing Director PT Bridgestone Tire Indonesia (BSIN), Yasuhiro Ukegawa di sela acara peluncuran ban Potenza Adrenalin RE003 di Karawang, Jawa Barat, Selasa (17/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada kenaikan harga karena pelemahan rupiah. Jadi kami tetap konsisten," lanjut Ukegawa.
Produksi ban Bridgestone pun tetap sama. Pabrik Bridgestone di Karawang memiliki kapasitas produksi sebanyak 28 ribu ban kendaraan penumpang per hari. Sementara pabriknya di Bekasi memproduksi 15 ribu ban kendaraan niaga per hari.
"Untuk kapasitas produksi Bridgestone, di pabrik Karawang sangat besar. Jadi kami yakin tidak ada masalah terkait suplai ban Bridgestone ke agen pemegang merek," ujar Ukegawa.
Menurutnya, Bridgestone juga berkonsentrasi membuat ban untuk mobil Low Multi Purpose Vehicle (LMPV) dan Low Cost Green Car (LCGC) yang paling laris di Indonesia. Karenanya, Bridgestone tetap optimistis bisa bertahan di pasar Indonesia.
"Kami juga berkonsentrasi produksi ban untuk LMPV dan LCGC," katanya.
(rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
Tukang Tambal Ban Pungut Pelat Nomor Terbawa Banjir, Minta Tebusan Rp 50 Ribu
Pengendara Singapura Banyak yang Mau Balik Beli Mobil Bensin
Lawan Arah di Malaysia Didenda Rp 60 Juta, di Indonesia Cuma Rp 500 Ribu