GM Akui Keliru Berhadapan dengan Pabrikan Jepang di Daerah Kekuasaannya

Pabrik GM Tutup

GM Akui Keliru Berhadapan dengan Pabrikan Jepang di Daerah Kekuasaannya

- detikOto
Jumat, 27 Feb 2015 14:28 WIB
GM Akui Keliru Berhadapan dengan Pabrikan Jepang di Daerah Kekuasaannya
Jakarta - General Motors (GM) akan menutup pabriknya di Bekasi, yang memproduksi Chevrolet Spin mulai Juni mendatang. Pabrikan asal Amerika Serikat mengakui telah keliru masuk ke ceruk pasar multi purpose vehicle yang telah dikuasai oleh pabrikan Jepang.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (27/2/2015), Executive Vice President GM yang bertanggung jawab atas pengawasan pasar di Amerika, Eropa, serta Tiongkok, Stefan Jacoby, secara terus terang mengakui kekeliruan itu.

Dia menyebut GM keliru telah head to head berhadapan dengan pabrikan Jepang di pasar yang merupakan back yard atau halaman belakang bagi pabrikan Jepang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, langkah ini merupakan reposisi dari Chevrolet di seluruh Asia Tenggara. Seorang sumber yang dikutip Reuters mengatakan, meski tidak langsung, GM akan menggandeng mitra barunya dari Tiongkok SAIC Motor Corp akan kembali memproduksi mobil di Indonesia.

Perusahaan patungan itu memproduksi mobil yang tidak menggunakan embel-embel nama Wuling, sebuah merek yang dikenal sebagai andalan SAIC Motor.Β 

Perusahaan tersebut akan membangun pabrik di dekat Jakarta, dan tidak tertarik untuk mengambil alih pabrik milik GM di Pondok Ungu, Bekasi, yang akan ditutup itu.

Sejak 2012 lalu, GM telah mencoba bersaing dengan pabrikan asal Jepang yang dipimpin Toyota Motor memproduksi low MPV, Chevrolet Spin.

Meski mobil ini mencatatkan keberhasilan di Brasil, namun tak demikian di Indonesia, sehingga dinilai gagal memenuhi harapan GM.

Spin dinilai tidak menguntungkan di Indonesia karena sebagian besar bagian harus diimpor. Sementara, Spin dijual sekitar Rp 148 juta.

Produksi Spin kurang dari seperempat dari kapasitas tahunan pabrik Pondok Ungiu yang dipatok GM sebanyak 40.000 unit. Sepanjang 2014 lalu, GM hanya menjual 8.412 unit Spin dan yang diekspor hampir 3.000 unit.

"Kami tidak bisa meningkatkan produksi Spin untuk meningkatkan volume seperti yang kami harapkan meskipun produk benar-benar baik," kata Jacoby kepada Reuters.

"Rantai logistik Spin itu terlalu kompleks, sedangkan kami memiliki volume yang rendah. Sehingga, kami tidak bisa melokalisir mobil sesuai sudut pandang biaya kami, tidak kompetitif," ujarnya.

Meski menutup pabrik, Jacoby tetap optimistis dengan GM Indonesia. 'Turun mesin' ini bertujuan untuk membuat GM Indonesia tidak hanya lebih menguntungkan namun juga menjadi sebuah perusahaan yang lebih berkelanjutan.

(arf/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads