Thailand Ajak RI Bangun 'Raksasa Otomotif Dunia' di ASEAN, Untungkah?

Laporan dari Thailand

Thailand Ajak RI Bangun 'Raksasa Otomotif Dunia' di ASEAN, Untungkah?

- detikOto
Senin, 03 Nov 2014 08:22 WIB
Thailand Ajak RI Bangun Raksasa Otomotif Dunia di ASEAN, Untungkah?
Bangkok -

Gagasan Thailand melalui Thailand Institute Automotive (TAI) untuk mengajak Indonesia dan Malaysia berkolaborasi dalam memproduksi mobil di kawasan ASEAN ditanggapi pelaku otomotif di dalam negeri.

Ajakan Thailand yang ingin Indonesia dan Malaysia tak perlu bersaing dalam mengembangkan industri otomotif ASEAN melalui kluster-kluster di masing-masing negara masih menjadi pertimbangan.

Saat ini, komposisi produksi mobil di ASEAN masih dikuasai Thailand, jumlah produksi 2,47 juta unit dengan pertumbuhan 1%, komposisi produksi 57%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan Indonesia dengan produksi 1,2 juta unit dengan pertumbuhan 13%, pangsa pasar 28%, dan Malaysia dengan produksi 600.000 pangsa pasar 14% dengan pertumbuhan 6%.

Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Kebijakan Industri I Made Dana M Tangkas di lokasi Laem Chabang Port, Thailand mengakui sudah ada beberapa pembicaraan dengan Thailand soal keinginan mereka berkolaborasi dengan Indonesia.

"Memang beberapa kali pembicaraan mereka ingin ada kolaborasi industri otomotif di ASEAN," kata Dana yang juga Director Corporate and External Affairs Directorate Production and Logistic Control PT Toyota Motor Manufacturing di lokasi Laem Chabang Port.

Dana mengatakan faktanya sekarang ini dari tiga negara produsen utama mobil di ASEAN Indonesia yang paling tertinggal dalam hal kesiapan infrastruktur, tingkat jumlah pemasok otomotif dan sumber daya manusia.

Sedangkan Thailand dan Malaysia lebih unggul, misalnya jumlah supplier komponen di Thailand sudah 2.000 komponen, di Malaysia 1.500 komponen, sedangkan Indonesia hanya 700-an komponen. Namun keunggulan Indonesia hanya sebagai pasar yang paling besar di ASEAN.

"Oleh karena itu, masalah ini bisa menjadi peluang, tantangan dan ancaman bagi kita," katanya.

Ia menambahkan kenyataannya saat ini masing-masing negara punya kemampuan produksi mobil yang hampir mirip-mirip yaitu sama-sama menggarap pasar mobil penumpang.

Meskipun Thailand punya keunggulan untuk basis truk dan pikap, sedangkan Malaysia pada produk mobil kecil, dan Indonesia lebih banyak pada MPV dan SUV.

"Kalau ide itu, lebih baik kita pelajari dulu secara mendalam. Soalnya produk yang kita buat di ASEAN sedikit perbedaannya. Sama-sama dibuat produk sejenis," katanya.

Menurutnya butuh upaya meningkatkan jumlah supplier otomotif di dalam negeri agar bisa berkolaborasi dengan dua negara tadi.Β 

Namun tak mudah untuk bisa memastikan para supplier di dalam negeri memenuhi kebutuhan Industri, meskipun saat ini beberapa produk lokal misalnya dari Toyota seperti Innova kandungan lokalnya sudah 80%, bahkan Avanza sudah mencapai 86%.

"Apakah investor dalam negeri siap nggak?" tanyanya.

Sebelumnya President of Thai Auto-Parts Manufacturing Association (TAPMA) Achana Limpaitoon mengatakan berkolaborasinya industri otomotif ASEAN apalagi ditambah plus 3 yaitu Jepang, Korea, dan Tiongkok, termasuk ASEAN plus 6 termasuk Australia hingga Selandia Baru, dengan menghitung pasar ASEAN mencapai 600 juta orang, maka ASEAN plus akan menguasai mayoritas pasar otomotif dunia.

"Ke depan Indonesia dan Thailand kerjasama agar bisa bersaing di pasar global. Jadi kita tak perlu berantem, kita bisa tukar sparepart sehingga menjadi pasar yang lebih besar," katanya.

Sementara itu, Specialist Public Affairs Departemen External Affairs Division Toyota Motor Asia Pacific PTE LTD Sim Yee Chiang. mengatakan kedua memiliki arti penting sebagai basis produksi di kawasan.

"Saya rasa Indonesia dan Thailand keduanya negara yang penting untuk industri otomotif di ASEAN," katanya.

(hen/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads