Senin, 23 Jun 2014 19:42 WIB

Jangan Takut Memilih Warna Mobil

- detikOto
Jakarta - Kebanyakan orang memilih warna 'pasaran' pada mobil mereka karena takut harga mobil turun terlalu banyak bila mobil berwarna nyentrik. Tapi ternyata, kenyataan berkata sebaliknya. Warna nyentrik seperti jingga dan kuning ternyata memiliki tingkat depresiasi paling kecil.

Saat ini, hampir di seluruh negara di dunia warna-warna seperti putih, silver, abu-abu atau hitam menjadi warna favorit. Tapi, penelitian yang dilakukan oleh iSeeCars.com menunjukkan bahwa setelah lima tahun, mobil dengan warna cerah seperti kuning dan jingga (orange) harganya akan turun lebih sedikit dibanding warna-warna lain.

Situs yang berbasis di AS ini mengklaim telah menganalisis lebih 20 juta mobil bekas lansiran 1981-2010 yang dihitung rata-rata penyusutan harganya berbanding dengan warna-warna yang terlebur di eksterior.

Menurut temuan mereka mobil kuning memiliki harga terbaik dengan tingkat penyusutan rata-rata 26,2 persen selama lima tahun. Sementara jingga ada di urutan kedua dengan persentase penyusutan 27,2 persen.

Berikutnya ada hijau (31,3 persen), biru muda (31,4 persen), merah (31,7 persen) dan beige/coklat/ gold (33,3 persen).

Sementara warna-warna yang umum malah memiliki persentase penurunan harga lebih tinggi lagi. Warna biru memiliki tingkat penyusutan rata-rata 33,6 persen dari nilai mereka. Sedangkan putih (33,7 persen), perak (34,0 persen) dan abu-abu (34,2 persen).

Dan hitam adalah warna dengan tingkat penyusutan rata-rata terbutuk karena rata-rata penyusutan selama periode 60 bulan mencapai 34,4 persen.

EO iSeeCars.com dan co-founder Phong Ly menjelaskan kalau warna-warna umum memang memiliki keunggulan, misalnya dalam hal kecepatan penjualan. Mobil dengan warna umum akan lebih cepat terjual. Namun, harganya tetap akan dibawah mobil dengan warna cerah bila dalam kondisi yang sama.

"Kelangkaan dapat menjelaskan perbedaan. Hanya 1,1% dari semua mobil berwarna kuning dan oranye. Jika teal (biru muda) dan hijau dimasukkan, persentase masih naik hanya lima persen. Kelangkaan pasokan warna tersebut dapat mendorong harga naik," jelasnya.

Model mobil yang diberi warna tertentu juga bisa mempengaruhi harga. Menurut analisis, kombinasi mobil warna yang jarang seperti SUV kuning atau convertible teal akan kehilangan nilai kurang dari mobil yang lebih konservatif.



(syu/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com